Hey there!

I'm Natasha, the author of this blog. I'm also a psychology student who is working hard to be a novelist. I like thinking deeply mainly about life. I'm not a wise person, I'm simply just a girl who wants inspire the world through my writing.

Hope you enjoy every single of my posts.

Lots of love!
Natasha

PS : Feel free to comment on my posts, I will definitely reply to your comment!


BLOG READERS SURVEY
Please kindly do this survey, it will only take a little of your time! :)

27 October 2013

Belajar Menjadi Dewasa

Kata orang, orang tua itu belum tentu udah dewasa. Dan orang dewasa itu belum tentu tua.
Gue cukup setuju dengan pernyataan itu. Tingkat kedewasaan seseorang itu gak bisa ditentukan dari umurnya. Namun, yang namanya orang udah tua haruslah bersikap, berpikir, dan bertingkah laku seperti orang dewasa pada umumnya.

Gue mungkin mengalami yang namanya, kecepetan berkembang. Pada usia SD, dimana seharusnya masih fase-fase pengen maen terus dan bebas berimajinasi, gue malah mungkin mulai belajar mengenal menjadi remaja. Karena kakak gue yang waktu itu udah remaja, gue jadi kepengaruh. Gue ikutan baca novel-novel teenlit yang belum pantas dimengerti anak SD. Alhasil, pikiran gue jadi berkembang seperti anak remaja. 

Menginjak SMP, yang harusnya masih yah.... pra-remaja, gue jadi makin seperti remaja. Rasanya pengen banget yah punya kisah indah seperti yang ada di novel-novel teenlit gitu. Gue mulai punya pikiran-pikiran yang menurut gue sekarang itu alay dan gak masuk akal terjadi di dunia nyata. Tapi, masa itu sudah berlalu.

Sekarang ketika gue udah beradaptasi dengan menjadi anak SMA..... gue mulai merasa semakin dekat dengan yang namanya jadi dewasa beneran. Masa depan itu semakin dekat untuk diraih. Dan kalo gak serius dari sekarang, gimana gue mau punya masa depan yang bagus? Alhasil, ditambah sekolah gue itu terkenal banyak ulangan, PR, dan tugas plus disiplin. Gue bener-bener menjalani sekolah dengan serius. Gue menjadi anak yang rajin belajar dan mengorbankan hari bahagia di weekend demi belajar, sedikit mengorbankan waktu senang-senang, dan sebisa mungkin mencoba serius belajar.
Gak ada lagi leha-leha gak berguna seperti yang gue lakukan pas SMP. Dan gak ada yang namanya menangisi pelajaran yang susah karena gue udah memilih jurusan impian gue.


Menjadi dewasa itu butuh proses yang gak gampang. Kita harus belajar , belajar, dan belajar. Guru gue pernah bilang kalau hidup kita ini selamanya emang digunakan untuk belajar. Belajar itu gak harus formal seperti di sekolah atau institut. Kita bisa belajar dari apapun. Belajar dari pengalaman misalnya. Pengalaman itu pun gak harus dari pengalaman kita sendiri, tapi juga pengalaman orang lain. Semakin kita banyak belajar, maka kita pun bakal jadi orang yang dewasa dan melihat hidup ini sebagai suatu peluang yang gak boleh dilewatkan.

Sebaliknya, remaja seusia gue biasanya males banget belajar. Believe me, I am a lazy student too. Gue kalo belajar gak bisa tuh pake yang namanya sistem nyicil jauh-jauh hari sebelum ulangan. Gue bakal belajar sehari sebelum ulangan. Gue juga tipe yang bakal affaaalliinn mati, tapi setelah ulangan.... gue bakal lupa. Yang gue hanya ingat itu yah... yang basic-basic nya doang. Tapi yang terpenting bagi gue.. ketika belajar meski hanya sehari sebelum itu, gue harus serius dan sungguh-sungguh supaya hasilnya pun bisa maksimal.

Gue juga berusaha belajar dari hidup gue sendiri yang kalo dilihat-lihat gak sebahagia di novel atau film. Sebagai orangtua single parent yang harus memenuhi kebutuhan hidup keluarga sekaligus menjadi ibu , mama gue gak bisa full sepenuhnya selalu ada di sisi gue. Pekerjaan dia juga menuntut dirinya berpergian ke luar kota. Sebagai anak, gue gak bisa banyak menuntut.

Waktu kecil gue bersikap seperti anak kecil pada umumnya ketika ditinggal orangtuanya- menangis. Gue inget dulu, waktu mama gue pergi keluar kota, gue nangis kenceng banget sampe mbak gue narik-narik gue nyuruh masuk rumah. Hal itu lumrah- karena gue masih anak kecil yang haus akan kasih sayang orangtua. Menginjak usia yang lebih gede lagi - sekitar kelas 4 SD... gue mulai belajar dan melatih diri untuk terbiasa ditinggal mama gue pergi. Gak bisa selamanya gue nangis saat pergi ditinggal orangtua. Gue harus kuat dan mengerti kalo mereka pergi karena gue juga.
Sekarang, gue sangat terbiasa jika ditinggal mama gue pergi. Malah... cukup senang. :P

Ada temen gue yang cerita kalo dia belajar itu harus diterjemahkan sama mamanya. Ada juga anak yang gak bakal belajar sampe dimarahin ortunya- baru bergerak buka buku. Dan ada juga seperti sepupu gue yang harus dipaksa dan diingetin mamanya buat belajar, baru dia belajar. Gue hanya bisa membayangkan jika gue juga seperti itu. Apa yang terjadi jika gue juga seperti itu?????
Mama gue kalo diitung-itung dalam setahun bisa berpergian sepertiga tahun atau lebih. Kalo gue harus dibentak dulu baru belajar.... gue bisa gak naek kelas berkali-kali.

Gue gak mau menyombongkan diri kalo gue udah bisa mandiri , belajar karena kemauan gue sendiri. Tapi... semua anak perlu deh belajar karena keinginannya sendiri. Kalo dari hal yang simple seperti belajar begitu aja kita gak mau dan males... gimana nanti kerja??? Apa iya kita harus dimarahin orangtua dan dipaksa-paksa kerja baru kita mau kerja???

Anak-anak dan remaja boleh saja penampilannya terlihat sangat dewasa. Rambut dikeriting, pake high-heels biar kelihatan dewasa, dan menggunakan make-up.... mereka terlihat dewasa , modis,dan cantik. Gue tau cewek yang seharusnya harus mulai menjaga penampilan begitu beranjak dewasa. Apalagi mama-mama pengen banget anaknya terlihat modis dan bergaya biar gak malu-maluin ketika lagi jalan-jalan di mall. Pake dress, tas branded, high-heels, dengan make-up yang agak menor.
Gue juga mulai sadar akan penampilan, tapi gue juga gak mau seberlebihan begitu... gue masih merasa belum waktunya (ditambah gue agak tomboy).
Fakta menyedihkannya adalah... penampilan memang menunjukkan orang terlihat dewasa. Tapi sesungguhnya apa mereka udah dewasa dalam pola pikir, tingkah laku, dan sikap?

Sebagai orang yang belajar menjadi dewasa, kita harus tau apa yang udah gak seharusnya kita lakukan lagi. Gue inget banget kalo dulu masih zaman kelas 8, baru ngerasain punya adek kelas di SMP... gue ngeliat adik-adik kelas gue yang "bertingkah". Gue yang waktu itu masih agak bad girl, sering mengkritik adik-adik kelas gue di Twitter. Sindirannya biasanya kayak gini : "Gila yah anak kelas 7 zaman sekarang... berani banget ama kakak kelas" atau "Najis belagu banget jadi anak baru". Sekarang setelah gue liat lagi... kesannya kok bocah banget gitu nyindirnya. Kita toh dulu juga pernah ngerasain jadi anak baru... so... biarkanlah mereka beradaptasi di jenjang yang baru. Biarkan mereka merasakan tahun pertama di sekolah baru. Jadi, menurut gue nyindir-nyindir begitu udah gak zaman lagi.

Ada lagi yang perlu diperhatikan. Emosi. Orang dewasa ialah orang yang bisa mengontrol emosi mereka. Mereka tau kapan dan dimana waktu yang tepat untuk marah. Banyak yang bilang seumuran gue itu lagi masa-masa ababil. Gue sendiri juga sedikit kesusahan belajar mengendalikan emosi. Gue sering banget dongkol kalo sesuatu tidak berjalan seperti yang gue harapkan. Pulang sekolah - capek banget dan gue yang setengah terkantuk melihat makanan di meja makan. Gue kelaparan karena gue hanya makan waktu sarapan pagi. Gue melihat makanan yang gak cocok dengan selera makan gue, dan gue meledak. Gue kesel karena gak ada makanan yang gue suka. Hihihi, sangat kekanakan kan ngambek dan ngamuk karena gak ada makanan yang gue suka.

Terakhir, menurut gue jadi dewasa itu gak lagi sirik-sirikkan sesama teman. Berantem sama temen karena hal gak penting dan gak jelas. Hanya karena gak suka gayanya... oh God! Kayak gayanya kebagusan aja *explodes* Gak bisa bercanda pada saatnya...oh gue suka banget bercanda dan ketawa! tapi gak pas lagi kebaktian, guru nerangin pelajaran, atau momen yang mengharuskan kita untuk duduk tenang juga. Dan jadi dewasa itu mau mengalah. Lebih baik mengalah daripada berantem dan merusak pertemanan. Jangan makin nambah musuh... bakal dibenci orang nantinya.

Well, Tuhan memang adil. Gue boleh dilahirkan di keluarga yang memiliki latar belakang tidak menyenangkan dan menyedihkan. Gue iri lihat temen gue selalu dijemput sekolah ama mama-papanya dan mama-papanya itu standby di rumah.
Kalo dilihat dari sisi buruknya, gue tentu aja pengen nangis dan sedih karena gak bisa tinggal bahagia bersama kedua orangtua. Tapi, itu udah masa lalu dan itu udah keputusan orangtua gue. Jadi, buat apa gue sesalkan?  Yang penting adalah sisi baiknya. Itulah salah satu usaha menjadi dewasa, berpikir positif.

Tuhan menjadikan gue begini, karena ia ingin gue itu belajar mandiri. Belajar menjadi dewasa. Ia ingin gue menjadi terang dan garam bagi dunia. Ia gak pengen gue tumbuh jadi anak manja yang bergantung terus sama mama-papanya. Ia ingin gue belajar mengandalkan diri gue sendiri (dan kepada Tuhan pastinya). Toh pada akhirnya, kita ini menjalani hidup sendiri. Masa depan nantinya kan kita yang menjalani, bukan orangtua, atau temen, atau pacar, atau saudara.


12 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
13 Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.
14 Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

(Ibrani 5 : 12-14)

Love
Natasha

06 October 2013

Perasaan Jadi Anak IPS

Sudah seperempat jalan gue lalui menjadi anak IPS. Berbagai perasaan tentunya gue rasakan selama menjadi anak sosial. Dan gue mau mencoba menceritakan perasaan itu.

Yang gue rasakan adalah yang pasti perasaan lebih lega karena udah gak harus belajar pelajaran yang gue gak suka seperti fisika, kimia, dan geometri. Beban sekolah gue bener-bener jauh berkurang. Sekolah bukan menjadi tempat yang menakutkan lagi buat gue.
Tetapi tentu aja gak ada yang sempurna dan enak di salah satu jurusan. Gue masih harus deg-degan saat pelajaran akuntansi karena itu mungkin jadi pelajaran terberat bagi anak IPS. Daya analisa dan nalar harus jalan ketika ngerjain akuntansi. Oh dan juga teliti.
Selain itu, kita juga harus rajin mencatat karena pelajaran mayor kita semuanya adalah hafalan. Kita harus mampu menghafal dan gak pikun.

Enaknya masuk IPS adalah jauh lebih gak pusing. Dan menyenangkan kok pelajaran IPS itu (:
Hari-hari sekolah terasa begitu indah ,  terus guru-gurunya juga lebih santai saat mengajar kita. Pelajaran-pelajaran IPS juga sesuatu yang pasti dan bersifat "mutlak" lah istilahnya. Gak perlu menghitung atau menggunakan logika, karena jawabannya yah udah pasti. Jawaban itu benar kalo kita menghafal dengan benar.
Selain itu kita juga jarang dapet PR. Hari-hari kita gak seberat anak-anak IPA yang dapet PR seabrek-abrek. Nilai kita pun juga jauh lebih manusiawi untuk dilihat. Matematika? Bukan pelajaran mayor jadi yah gak apa sih kalo mau merah :3
Dan sebenernya kita gak butuh lho les-les gitu asal kita mau rajin belajar aja. Pasti bisa belajar sendiri.

Gak enaknya jadi anak IPS... mungkin capek yah menghafal. Terus agak ngebosenin gitu tiap hari belajarnya hafalaaaann semua. Ditambah anak IPS juga banyak banget muridnya, sehingga gue merasa suasana belajar di kelas itu kurang kondusif karena kebanyakan anak. Pas istirahat kelas juga ramenya bukan main. Guru-guru yang ngajar IPS rata-rata jauh lebih tegas dan honestly, ngeselin. Mentang-mentang kita anak IPS, jadinya dituntut untuk lebih kritis gitu deh.
Walau kita gak dapet PR, kita lebih sering mendapatkan tugas yang merepotkan. Tugas yang lebih mengarah ke menulis.... dan membaca....
Kita juga harus siap mental kalo dapet jadwal ulangan yang gak manusiawi (contoh sejarah dan ekonomi). Harus siap-siap begadang, minum kopi bergelas-gelas, dan jauhkan diri dari gadget.
Pilihan kuliah juga terbatas! Masih sedih banget kalo tau clinical psychology itu harus anak IPA!!! :'( jahaaaattt... hidup ini tidak adil.


Meski begitu, tetap aja yang namanya sekolah harus rajin belajar.
Jadi, note bagi kalian anak kelas 9 atau 10 yang mau penjurusan dan bingung mau jadi apa....
Jangan anggap sepele juga sih IPS itu... karena namanya sekolah gak ada yang santai sampai gimana banget. Tetep aja ada yang bikin galau dan sesek.
Tapi jangan pandang sebelah mata juga jurusan IPS, karena kata guru sosiologi gue, justru anak IPS-lah yang kelak akan jadi bos. (:
Dalam memilih jurusan, lebih baik pilih yang lebih disukai dan diminati. Pokoknya jangan sekali-kali mikir milih IPA karena lebih membanggakan atau milih IPS karena pengen santai. Ada kelebihan dan kekurangannya tetap saja :)

Salam akuntansi
Natasha


05 October 2013

Saturday Night

Dengan setengah mengantuk gue mengerahkan tenaga gue untuk mengetik di blog. Aduh gak kerasa gue gak nge-blog lagi selama sebulanan.
Kemana aja gue? Gue juga udah lupa. Sepertinya gue keasyikan nonton satu drama korea yang diperankan oleh Kim Soo Hyun :'), terus seminggu penuh ulangan, dan kesibukan lainnya deh. Tapi alasan utamanya tentu saja malas.

Uhm, di malam sabtu yang tadi sempat hujan bentar ini (Hiks selamat datang musim hujan!!) , gue mau berbagi cerita sedikit. Tentang kemarin dan hari ini.

Kemarin gue mengawali hari dengan indah. Gue ikut persekutuan doa karena yang sharing adalah temen gue, jadi gue nyoba-nyoba ikut aja deh. Dari gue kelas 10 , gue emang penasaran banget ama PD ini... dan baru kesampean kemarin.
Oh betapa rasanya menegangkan ketika seseorang datang, kemudian berjalan masuk ke dalam aula dan duduk. Gue rasanya senang bukan main. Agak dosa yah ketika waktu untuk Tuhan malah digunakan untuk kepentingan lain. Gue cuma bisa natap temen gue yang sharing, dan menundukkan kepala sesekali karena malu. Habisnya dia agak bersebrangan gitu duduknya sama gue... dan teman gue itu duduknya di tengah. Alhasil kalo gue natap temen gue, gue juga jadinya kayak natap dia gitu deh... haduh. 

Sisanya, hari jumat masih gue lalui dengan susah payah. Alasannya karena gue masih juga agak bermasalah dengan eskul. Gue gak tau deh apa yang harus gue lakukan selanjutnya... 

Hari ini... hari yang agak melelahkan. Well, hari ini penerimaan rapot mid... rasanya baru kemarin yah gue ambil rapot mid kelas 10... kenapa waktu itu cepat sekali berlalu? :')

Seperti kebiasaan gue setiap ambil rapot untuk "mengekspos"-nya, maka kali ini pun gue akan mengumbarnya...
Rapot kali ini... mungkin salah satu rapot terbaik yang pernah gue capai. Untuk pertama kali dan mungkin bisa jadi sekali seumur hidup....................................
jeng jeng jeng
nilai gue gak ada yang merah :')

PAK 80.5
PKN 74.5
Bhs. Ing 87
BI 85.3
Mat 91
Sejarah 76
Geografi 77.3
Sosiologi 88
Ekonomi 89.8 
TIK 85
Bhs.Mand 70 :|

Tentu saja gue sangat bersyukur kepada Tuhan karena Ia memberi kesempatan gue untuk bisa mendapat nilai yang bagus-bagus dengan hasil jerih payah gue. Gak bohong, perasaan bangga itu muncul dan rasanya itu menyenangkan. Bisa dapet nilai bagus bukan hasil nyontek atau berbuat curang... gak ada yang mengalahkan rasa itu. Belajar seharian dan bahkan mengorbankan malam minggu rasanya tidak sia-sia.
Thankyou God for your blessing toward me (:

Oh sebenernya nilai UTS udah keluar... tapi banyak yang gak dimasukkin ke nilai rapor... jadi sebenernya gue cukup beruntung juga. Nilai UTS sejarah dan mat gue fix merah... dan untungnya tidak masuk ke rapor!!! Hihhihi

Uhm, puas ngeliat rapot udah gak ada tulisan fisika dan kimia lagi... gak ada pelajaran yang gue bego setengah mampus lagi :') 
Oh tetap ada deh pengganti pelajaran yang gue agak gak berminat, bodoh, dan gak niat. Nama pelajarannya adalah sejarah.

Sebenernya acara gue hari ini bukan hanya mengambil rapot saja, tapi juga edufair. Well, edufair tahun ini lebih gak jelas lagi daripada tahun lalu. Gue semakin mendekat ke jenjang perguruan tinggi, tapi semakin gelap masa depan gue.
Prioritas gue memang kuliah di luar negeri... dan gue mau ambil psikologi. Dan setelah bertanya ke agen sana-sini... hasilnya gue gak dapet apa-apa. Yang gue dapet adalah kenyataan pahit bahwa anak IPS itu cuma bisa ambil psikologi sosial. Sementara gue ngincer banget psikologi klinis, psikologi yang kayak nanganin orang-orang gangguan jiwa gitu. Dan untuk psikologi klinis itu buat anak IPA :(
HIKSSS... what should I do?
Ada beberapa agen yang bilang kalau psikologi itu bukan jurusan yang "bagus" untuk diambil , karena peluang kerjanya minim ditambah katanya psikologi itu agak kuno. DAN rasanya gue stress maksimum. Pasalnya, gue bener-bener gaktau mau kuliah apa selain psikologi. 
Anak IPS itu cuma bisa kuliah seperti bisnis, akuntansi, ekonomi, ilmu komunikasi, hukum, psikologi, dan lain-lain yang pokoknya begitulah.

Bisnis? Gue kurang berminat meski katanya orang chinese itu jiwa dagang.
Akuntansi? Well, tidak berminat karena honestly, gue agak teledor.
Komunikasi? UHMMM.. gue pemalu.
Hukum? Well, bagi orang non-pribumi sepertinya agak sulit kuliah hukum karena mengingat kebanyakan orang hukum itu orang Batak... gue juga gak tegas sama sekali dan gue mudah kasihan orangnya... gimana gue mau jadi hakim atau pengacara????
Perhotelan? Mati aja. Gak bisa ngapa-ngapain.

SEE? Memang gue gak punya pilihan lain selain psikologi. Gue berminat sekali ama psikologi dan tidak tahu harus ambil apalagi selain itu. Gue mau iseng nyoba hubungan internasional / SOSIOLOGI =D / kriminologi / journalism.
Tetapi dari jurusan yang gue mau emang karier dan peluang kerja di Indonesia gak jelas yah... 
Ditambah minimum nilai IELTS-nya lama-lama gak rasional. Kata sebuah agen, psikologi itu butuh kira-kira 6.5, terus kalo mau di UK harus 7. Ha... ha... ha...
Apa gue gak usah kuliah aja  yah lama-lama??? :')


Okeh, sepertinya gue sudah mulai ngelantur dan itu menandakan kalau gue udah ngantuk banget sekarang. 
Hari ini, malam minggu... seperti biasa di rumah sendiri. Gue iseng download-download application gak jelas yang ternyata boleh juga mengisi kehampaan komputer gue. Sekarang yah... komputer gue gak kuno banget isinya cuma itunes, browser, microsoft office... bahaha


Iseng bikin meme pake app baru yang gue download :3


Sekian :3
Love
Natasha



01 September 2013

Getting Close to Natasha IX

Kali ini gue mau membahas kehidupan di masa depan gue. Bagaimana kira-kira yah hidup gue di masa depan? Well, masa depan memang misteri. Kita gak bisa memprediksi dan gak ada yang bisa mengetahui gimana masa depannya. Itu semua rencana Tuhan saja. (Ams 23:18)
Tetapi bukan berarti sekarang kita hanya berserah begitu aja tanpa berjuang melakukan apapun supaya kita punya masa depan yang baik.

Orang bilang anak-anak harus sekolah supaya gede nanti bisa pinter dan bisa kerja yang baik.
Meski banyak anak-anak yang serius dengan sekolah tapi banyak pula yang tidak. Banyak juga yang merasa dirinya gak bisa bertahan dalam hal akademis. Banyak yang menyia-nyiakan kesempatan belajar di sekolah yang bagus, guru-guru berkualitas, dan fasilitas yang baik. Sementara ada banyak anak yang gak bisa sekolah karena gak ada biaya.

Kenapa begitu? Menurut gue anak-anak yang menyia-nyiakan sekolah itu adalah anak yang sudah terbiasa hidup enak, bahagia, dan tenang. Mereka tidak tau pahit dan kerasnya hidup, mereka cuma tau manis-manisnya aja. Ironis mengingat orang-orang(termasuk gue sih) malas-malasan sekolah dan membuang kesempatan untuk menimba ilmu sementara banyak anak-anak yang berjuang untuk sekolah. Perlu ditekankan juga sekolah itu untuk mencari ilmu, keahlian, dan ketrampilan supaya kita bisa jadi manusia berkualitas di masa depan. BUKAN mencari nilai ataupun ijazah.


Oh, ternyata bekal buat di masa depan tidak cukup hanya dengan sekolah. Akademis itu tidak cukup. Ada kalanya hidup ini harus dilihat diluar dari ilmu yang kita dapat. Buat apa punya banyak ilmu, tetapi kita tidak bisa bergaul dengan orang lain karena tenggelam dengan rencananya sendiri? Dan ditambah lagi tidak punya kasih untuk memberi dan berbuat baik kepada sesama?
Gue bilang hal-hal yang tampak kecil itu sebenarnya juga salah satu faktor penting untuk menjadi sukses.
Contoh si X pengen jadi pengusaha katering sukses. Pertama, tentu si X harus punya keahlian memasak lalu dia juga harus punya modal untuk memulai bisnis katering. Dia butuh yang namanya kreativitas untuk memberi menu supaya orang tertarik.
Setelah semua itu komplit. Hal pertama ketika membuat bisnis baru adalah mempromosikan. Dia butuh orang-orang untuk mencicipi makanannya supaya orang merasa tertarik dan akhirnya mempromosikan katering milik si X ini. Kita butuh yang namanya relasi. Sebanyak relasi yang kita punya, makin besar peluang untuk katering kita dipromosikan, dan dijamin akan banyak pula yang memesan katering.
Dan yang tak kalah penting, supaya bisnis tetap lancar, yang tidak boleh dilupakan adalah memberi kembali kepada Tuhan apa yang sudah ia berikan. Contohnya bisa aja si X ini membagi-bagikan makanan kateringnya untuk acara kegiatan sosial di panti asuhan atau anak-anak jalanan.
Yang terakhir inilah yang sering diremehkan orang-orang. Ingat apa yang kita tabur itu pulalah yang akan kita tuai.

Cukup ngelantur-nya. Kembali ke masa depan gue.
Waktu TK, gue inget gue itu benci sama pelajaran melipat dan menggambar. Waktu kecil, ketika hobi anak-anak cewek adalah main barbie, masak-masakkan, dan lain-lainnya... gue malah hobi membaca. Gue suka banget baca majalah sejenis bobo, ino, dll. Gue juga suka main sih (namanya juga anak-anak). Gue suka main ayunan, perosotan, dan mandi bola :')
Cita-cita gue : Dokter. (Karena dulu gue sakit-sakitan jadi ngeliat dokter itu kayak seorang yang hebat bisa menyembuhkan gue...)

Lanjut SD, gue mulai sadar gue emang gak bakat menggambar. Rasanya tertekan waktu harus terpaksa menggambar di kelas gambar. Gue juga benci banget ketika disuruh bikin prakarya. Kerjaan gue gak pernah rapih dan gue bego banget mendengar instruksi. Oh dan gue juga benci waktu kelas 6 belajar listrik(FISIKA) yang membuat gue nangis waktu ujian praktek... pelajaran nari karena gue tidak pintar menghafal gerakan nari dan gue kurang lincah... oh dan tak lupa gue juga kurang teliti dalam matematika meski gue cukup suka dan mahir mengerjakan matematika. Hihihi
Yang gue suka saat SD membaca novel teenlit, main drum(karena gue les), menyanyi di paduan suara, olahraga, dan membuat ide-ide menarik tentang majalah.
Cita-cita gue : Dokter, Guru, Penulis

Beralih ke SMP, gue semakin sadar apa yang menjadi kekurangan dan kelebihan gue. Nilai gue di SMP parah-parah apalagi kelas 7. Di rapot gak ada yang 8 sama sekali. Dan gue nyaris gak naik. Gue mulai membenci pelajaran matematika karena susahhh banget. Gue semakin serius dengan nulis, dan gue menyukai biologi karena gurunya asyik (Bu Sisil!! I miss you bu xxx), gue suka juga ama PKn & IPS , dan tentu saja bahasa Indonesia, hahaha. Di kelas 9, sepertinya gue udah punya keinginan buat kuliah psikologi dan dari SMP pula gue juga udah yakin gue masuk IPS.
Cita-cita gue : Penulis / Psikolog

Melihat diri gue yang mengenal diri gue cukup baik. Seharusnya di SMA gue udah mantap dengan tujuan hidup gue. Namun, malah semakin dekat dengan kuliah... gue malah makin galau. Gue yang udah mantap mau psikologi jadi goyah. Apa sih tujuan hidup gue sebenernya??? Gue suka nulis tetapi gue tidak tertarik untuk belajar macam-macam sastra Indonesia yang bikin ngantuk. Mungkin teman gue benar, kalo nulis itu hobi yang juga merupakan talenta gue. Gue ragu jika mau kuliah psikologi... gue bakal jadi apa nanti? Di Indonesia, psikologi belum menjadi sesuatu yang umum di masyarakatnya.
Semakin besar gue harus mikir juga gimana nanti gue kerja...

Lantas gue tiba-tiba mendapat ilham menjadi perawat rumah sakit. Gue gak tau kenapa tapi emang cocok dengan keinginan di lubuk hati gue yang paling dalam untuk merawat,menghibur orang. Hihihi. Tapi itu ditentang dan dianggap keinginan yang aneh sama orang-orang terdekat gue. Gue kepikiran juga untuk kuliah jurnalis. Selain karena yang namanya media itu gak bakal mati, gue juga suka nulis, dan kebetulan pintar juga berbicara walau gue pendiam. Kuliah yang gue idam-idamkan juga waktu SMP yaitu kriminologi... terasa sulit untuk benar-benar dilaksanakan... atau kuliah dokter yang menurut gue udah sulit dijangkau karena gue juga anak IPS...

Well, memang studi yang gue inginkan itu gak penting semua. Studi yang kalo di Indonesia itu masih jarang yang mau dan pilihan pekerjaannya pun sedikit. Mungkin gue terlalu banyak nonton film luar negeri dan berharap bisa jadi agen mata-mata kayak di Amerika...
Sekarang rasanya masih abstrak apa yang menjadi keinginan gue sebenarnya. Gue punya rencana kalo kelak gue bakal bekerja di majalah atau stasiun televisi gitu di bagian menulis atau ide-ide pastinya. Lantas gue juga sambilan menulis novel untuk menambah penghasilan ~ Tetapi jurusan yang ingin gue ambil adalah psikologi tetap saja. Karena gue gak bisa pungkiri suka banget sama hal-hal yang diajarkan di psikologi. Gue berharap bisa mengunjungi rumah sakit jiwa.......
Toh psikologi masih berhubungan dengan yang namanya manusia dan gue bilang berguna juga jika bisa memahami karakter, tindakan, dan sikap manusia buat menulis.


Sejak di SMA gue jadi memfokuskan diri gue untuk mengejar nilai... karena jika gak dapet nilai bagus... gue bisa gak naik. Ilmu seperti masalah belakangan sejak SMA.... dan gue takut nanti gue juga berpikir seperti itu... memfokuskan diri untuk mencari uang tanpa menyukai dan merasa bangga dengan pekerjaan yang gue kerjakan...

UHM, sepertinya itu saja yang gue bahas kali ini. Masa depan gue mungkin tidak jauh seperti yang gue  rencanakan jika Tuhan menghendaki. Bisa juga, apa yang gue bayangkan itu berubah karena suatu hal yang tidak kita ketahui..............


Salam
Natasha

PS : Rasanya senang sekali gak ada PR maupun ulangan di hari Senin :') Merdeka!!




15 August 2013

안녕!!

Helloo I'm still alive, fellas.
Selama ini gue enggak nge-blog karena yah selain sibuk (sibuk jadi pembantu beres-beres rumah, baca novel-novel terjemahan, dan menulis pastinya) gue juga gak tau apa yang mau ditulis.
Giliran lagi punya ide biasanya juga gue gak punya mood nge-blog. Entah kenapa... kangen juga sih bisa aktif nge-blog kayak dulu lagi.
Tapi toh semuanya berubah. Gue gak punya waktu-waktu luang yang banyak kayak dulu lagi apalagi bentar lagi udah mau masuk sekolah lagi aja. Aduh...
Rasanya masih pengen libur lagi! Pengen libur setahun :') Sebel deh giliran lagi ada ide melimpah dan mood bagus buat nulis, eh bentar lagi masuk sekolah. Banyak ulangan menanti lagi... hiks. Kembalikan waktu-waktu berharga ini, Tuhan :(
Kalo diliat di kalender lagi, kayaknya gue gak bakal ketemu hari libur lagi sampe.... sampe.... DESEMBER?! Apakah ini hanya mimpi???? Gak ada libur panjang lagi sampai kurang lebih 4,5 bulan! Mati deh....
Untung aja masuk IPS lebih SEDIKIT ringan dibanding masuk IPA, jadi mungkin gue masih bisa punya sedikit waktu luang buat nulis lagi. Kalau gini caranya kapan bisa nerbitin buku beneran?
Kenapa juga rasanya gue makin gak niat sekolah padahal udah penjurusan dan gue udah gak ketemu lagi ama pelajaran-pelajaran mematikan (FISIKA-KIMIA). Gue padahal suka lho sama pelajaran-pelajaran IPS tapi tetap aja rasanyaaa gue malessss banget sekolah dan menjalankan sekolah.
Gak kerasa juga sih kalo dipikir-pikir udah kelas 11 terus naik kelas 12(AMIN) terus gak sekolah lagi...
Hiks, gak mau sekolah :(

Ngomong-ngomong tentang nerbitin buku... banyak yang pasti bingung juga ngeliat gue yang suka di depan komputer, berjam-jam setiap hari tapi gak menghasilkan satu buku pun sampai sekarang.
Well, ini alasannya.

1. I'm lazy and moody
Gue sering males nulis atau gak punya mood nulis. Kalo gue paksa nulis pun hasilnya bakal jelek banget dan bisa-bisa gue bikin jalan cerita novel gue gak karuan.

2. I'm a busy student
Sekolah 40 jam seminggu ditambah berjam-jam setiap harinya untuk belajar ulangan, ngerjain pr, bikin tugas itu bukan waktu yang singkat. Waktu luang gue di hari sabtu dan minggu pun kadang harus dikorbankan untuk hal lain seperti BELAJAR , BELAJAR, dan BELAJAR. Memang apalagi sih kerjaan murid selain belajar?

3. It's not easy to write 100 pages.
Okelah gue suka nulis dan sering dapet ide... tapi sulit juga lho merangkai ide-ide itu jadi sebuah cerita yang enak dibaca. Belum lagi jumlah halaman yang kerap meneror gue. Kadang gue suka gelisah sendiri mikir kok masih halaman 50-an tapi cerita gue udah mau berakhir gitu??? Alhasil, gue harus mencari akal... apalagi yah yang adegan-adegan selingan yang buat menunda sedikit klimaks-nya???
Walau gue suka nulis, tapi gue juga tetap murid sekolahan yang benci disuruh gurunya nulis tugas 2 halaman. 2 halaman aja rasanya beeeeerrraaattt banget apalagi 100 bahkan 200 halaman?

4. It takes time
Menulis butuh waktu. Bukan waktu singkat melainkan waktu yang panjang untuk menyelesaikannya supaya bisa jadi karya masterpiece. Semuanya harus disusun sedemikian rupa supaya hasilnya bagus.
Untuk bisa hasilnya bagus, ada prosesnya. Harus banyak baca dan menonton supaya dapet ide dari karya orang lain(bukan plagiat lho!), banyak-banyak baca (lagi) buku pengetahuan supaya karya bermutu sedikit, dan butuh waktu berpikir lalu merasakan emosi novel itu sendiri....

5. Et cetera
Selain alasan dari diri gue sendiri, pastinya ada faktor eksternal. Ada ajaaa hambatan gue nulis seperti diajak gossip dan ngobrol seru ama temen-temen, disuruh ini-itu ama mama, jalan-jalan buat menghilangkan penat, dan alasan-alasan lain yang diluar dari gue.



Oh lupakan tentang masalah nulis. Gue belakangan ini lagi sensitif kalo ngebahas tentang pacar... iya deh gue belum pernah pacaran. Gue gak ngerti dan gak tau rasanya kayak apa. Gue pengen tau, tapi rasanya gue emang belum mau tau. (You know what I mean) , 'cause I'm tired of my own love-story.
Melihat orang-orang disekeliling gue udah mulai taken, bikin gue iri sebenernya.... tapi di satu sisi gue tau gue bukan orang yang betah duduk berduaan, ngomong pelan-pelan atau diimutin, atau hal-hal seperti itulah. Gue pemalu tetapi kaku. Gue suka hal-hal romantis dan gue sendiri juga cukup romantis tapi gue gak suka diromantisin. Gue ngakunya pernah jatuh cinta tapi gue tau gue gak pernah.
Well, terseralah orang-orang mau pacaran kek, kawin kek sekalian, sementara gue disini ays dan merana sendirian dalam kesepian (wueek) ... yang penting gue bahagia. (cuih)
Tetapi dibalik rasa itu gue juga mulai sadar akan suatu hal... bahwa cinta itu gak perlu lihat jauh-jauh atau berharap jauh-jauh... cukup lihat sekeliling kita aja. Dan sebenernya disitulah cinta kita berada.
Gue sudah bertekad prioritas hidup gue untuk sementara adalah mengejar mimpi gue menerbitkan novel sampai bestseller dan jadi no #1 di New York Times terus novel gue diadptasikan jadi film. Tidak terlalu mustahil karena gue yakin gue cukup mampu asal gue mau bekerja keras dan mencurahkan perhatian gue kesana.
Pasti adalah yah waktu dimana gue mulai sadar ini waktunya...
Tapi gue tidak tau deh yah kalau Tuhan berkehendak lain. Tidak ada yang tau rencana Tuhan kan.


Lupakan masalah cinta lagi. Sekarang ke malasah tentang hidup gue di rumah belakangan ini. Gue kedatangan sepupu-sepupu dekat gue di Jakarta yang nginap di rumah karena senasib mbak masih pulang kampung.
Begini nih. Gue suka anak-anak(inget anak-anak! bukan bayi). Gue juga suka kedamaian dan ketenangan.
Tetapi setelah kehadiran ketiga sepupu kecil gue yang lincah, bersemangat, dan aktif itu membuat gue bertanya-tanya lagi... sebenernya gue ini suka gak sih ama anak kecil? Apa mungkin karena sifat gue yang pada dasarnya sabar sama siapapun membuat gue menyangka gue ini suka anak-anak padahal gue gak suka sama sekali soalnya anak-anak itu berisik dan bertolak belakang dengan kedamaian dan ketenangan yang juga gue sukai???
Mungkin jawabannya iya. Gue merasa terganggu sebagai anak remaja normal karena kebebasan gue direnggut. Ini aja gue bisa pake komputer karena mereka lagi pergi. Tapi seru juga sih yah bisa bantuin tante gue ngurus anak kecil soalnya gue anak bungsu jadi gak tau rasanya punya adek. Lumayan lah yah buat pengalaman jadi baby sitter.
Seru juga sih main bareng ( gue pura-pura pro gitu bikin kalung dari manik-manik dan aksesoris lainnya padahal gue benci dan bodoh di pelajaran kerajinan tangan)
HIKS tapi sedih lagi kalo inget mereka teriak-teriak, nangis, dan berantem terus sehingga gue pusing dan gue gak bisa nulis atau baca atau dengerin musik atau santai di rumah sendiri...
Don't worry I can handle it though.


Gue lagi excited juga nih rencanain pergi jalan-jalan Desember nanti sama cici gue. (Iya... iyaaa... gue tau Desember masih lamaaaa, tapi namanya liburan cuma sekali setaon harus direncanakan matang-matang biar seneng nanti)
Gue bakal nangis sih kalo ke Inggris + Irlandia :') It's going to be fun, tapi gue pengennya sih bisa perginya pas summer biar bisa liat dalemnya Buckingham Palace!! WUAAA! Tapi pas winter juga gak apa kok. Kapanpun gue mau deh asal ke London dan Wolverhampton tempat my boy tinggal.
Kemungkinan besar gue juga bakal menjelajah Eropa bagian timur atau ke Jepang. Gue mikir kalo di kedua belah dunia itu gue makannya gimana... denger-denger di East europe makanannya gak enak sementara di Jepang gue gak bisa makan seafood atau makanan aneh-aneh yang gak bakal sudi gue telen (?) Lumayan sih kurus (HAHAHA, ANDAI ANDAI BISA KURUS ... )
We'll see deh kemana gue akan menginjakkan kaki Desember nanti... apa jangan-jangan gue bakal pulang kampung ke Malang? Oh semoga.... tidak. I love my hometown but I love my future home(England) more. Hihihi.


Jadi begini saja curhatan gue seputar kehidupan gue yang begitu-begitu saja. No drama , no stupid conflicts, no cries. Lucky, I'm just a normal girl.
By the way, gue lagi ketagihan baca novel-novelnya Cecelia Ahern ( yang nulis PS I Love You) dan juga buku-buku lain seperti ilmu psikologi. Padahal gue udah gak gitu suka baca... tapi tetep buku itu the best!!! Bener-bener sumber ilmu banget.
Gue juga masih setia dengan One Direction. Gue bukan penggemar ekstrem yang tiap hari, tiap jam, menit, detik mantangin timeline Twitter atau gossip-gossip seputar 1D. Gue hanya sebatas mendukung karya-karya mereka. Gimana nih mereka jadi cover majalah-majalah yang harganya lumayan, punya parfum, film-nya mau keluar, buku baru-nya juga mau terbit, mereka bakal bikin album ketiga, 1D world bakal buka di Singapore!!! (Oh NOOO) dan gossipnya mereka juga mau konser di Indo!!! AHHH!
Gue tidak seperti anak cewek kebanyakan yang boros dalam urusan baju, sepatu, tas, dan aksesoris karena sering ke mall. Sebaliknya, gue patut dibilang geek dan freak sekalian karena boros di toko buku, toko buku, toko buku, dan... restoran! HAHAHA Who cares btch!!!


Sekian
Love
Natasha

PS : Oh ya... belakangan ini gue sering mimpi aneh-aneh dan sering mimpi tentang sekolah. (Apa ini pertanda gue kangen sekolah???)
PPS : Happy belated birthday Yoo Jae Suk & Happy Birthday to Ace Jihyo!