Hey there!

I'm Natasha, the author of this blog. I'm also a psychology student who is working hard to be a novelist. I like thinking deeply mainly about life. I'm not a wise person, I'm simply just a girl who wants inspire the world through my writing.

Hope you enjoy every single of my posts.

Lots of love!
Natasha

PS : Feel free to comment on my posts, I will definitely reply to your comment!


BLOG READERS SURVEY
Please kindly do this survey, it will only take a little of your time! :)

31 July 2017

Japan Trip Part 1

Lama tidak menulis di blog, gue memutuskan untuk menceritakan perjalanan gue kemarin ke Jepang dengan teman lama gue, Michelle. I don't usually write about my journey because I often feel like I want to brag myself if I do that , but this time it's totally different because this trip taught me a lot of lessons. 

Biasanya gue pergi liburan dengan mama dan cici apalagi ke negara yang jauh. Kita pun juga 3 kali ikut tur dan baru tahun lalu gue mencoba pergi sendirian dengan cici dan tunangannya. And I realize it was fun! Pergi dengan tur memang teratur, nyaman, dan pastinya bakal melihat tempat penting di suatu negara, tapi pergi sendiri mengajarkan banyak hal yang justru membuat liburan menjadi semakin seru karena ada tantangan yang harus dihadapi.

Gue dan Michelle merencanakan perjalanan kita ini dari bulan Maret kemarin (kalau tidak salah ingat). Kita seperti biasa facetime sambil bertukar cerita dan tiba-tiba muncul ide gila untuk jalan-jalan bareng. Jadi gue dan Michelle memang sudah bertemen deket dari SMP tapi tidak pernah jalan-jalan bareng. Maka, kita pun meniatkan rencana kita itu. Destinasi yang kita pilih akhirnya Jepang karena kita berdua gak pernah ke sana, dan menurut kita dari segi biaya, keamanan, jarak, dan semuanya Jepang merupakan negara yang paling masuk akal buat kita datengin.

Jadilah kita membeli tiket pesawat. Lalu booking AirBnB untuk mengirit biaya akomodasi. Sebetulnya gue pikir, ide jalan-jalan ini lumayan gila buat gue. Gue harus naik pesawat sendirian untuk pertama kalinya dan jaraknya pun cukup jauh. Tujuh jam. So, jujur gue gugup. Sangat gugup.  Ditambah, gue sebetulnya kurang menyukai Jepang terutama karena gue takut tidak bisa makan. Gue hanya makan daging ayam dan sapi, so yeah... gue takut gak bisa makan makanan di sana yang didominasi oleh babi dan seafood (Dua musuh gue di Indonesia). Tapi namanya juga penasaran, so teruslah berjalan rencana perjalanan ini.

Mendekati hari pergi, gue literally gak ada semangat untuk membut itineary, mix n match baju, dan membeli perintilan kecil seperti tiket wisata dan tiket JR Pass (kereta untuk di Jepang). Mungkin karena pada awalnya gue tidak tertarik juga dengan Jepang jadi memengaruhi gue juga jadi agak malas-malasan menyiapkan perjalanan ini. Gue agak sebel bahkan dengan Michelle yang juga susah diajak diskusi karena dia pergi charity gereja ke India. Gue mulai berpikir, perjalanan ini akan jadi buruk.

Sampai tibalah hari H. Gue naik pesawat di malam hari sendirian. Gue gak bisa tidur. Siapa sih yang bisa tidur pules di pesawat? Akhirnya dengan istirahat yang sangat singkat, gue merasa sangat kelelahan. Tapi gue harus berjuang lagi untuk pergi ke apartemen sendirian di negara asing yang tidak gue tahu sama sekali bahasanya. Gue rasanya antara semangat karena gue ditantang menjadi mandiri, tetapi pengen nangis juga karena harus mengandalkan diri sendiri menggeret koper di negara asing ini. Baru kali ini gue merasa menjadi orang asing yang totally buta dengan negara itu. Mungkin karena gue sendirian*. Yang gue tahu dari Jepang cuman Doraemon sama Detective Conan. 
*Oh ya, gue tidak berangkat bareng Michelle karena dia kuliah di Korea, so yeah kita beda pesawat dan beda bandara. Gue sampai di Haneda yang thanks God lebih deket dari kota dan dia sampai di Narita yang lebih jauh dari kota Tokyo. Gue sampai pukul 9 pagi waktu Jepang dan dia baru berangkat jam segitu dari Korea. So basically, I'm all by myself for 5 hours. 

So, hal pertama yang gue lakukan ketika sampai adalah membeli nomor lokal. Gue membeli sim card 7 hari dengan harga 4.500 yen yang awalnya gue kira murah, tetapi setelah gue itung dengan kalkulator harganya bikin kepala gue pusing. Why I'm so stupid, tapi mau bagaimana lagi kalau gak gue gak bisa komunikasi sama Michelle dan keluarga di Indonesia. Setelah ada internet, gue pun membeli kartu transportasi namanya Suica Card yang ternyata bisa dipakai di luar Tokyo juga. Basically, Suica yah kayak Ezlink di Singapore atau Oyster di London yang bisa dipake naik subway dan bus. Jadi sistemnya beli kartu lalu bisa di top-up sesuka hati sesuai kebutuhan. 

Harus gue akuin, jalur kereta Tokyo sangat rumit. Line MRT Singapore hanya seperti mainan anak kecil. Bahkan line Tube di London pun masih sangat lebih mudah dimengerti. Jika mencoba dipahami ada Tokyo Metro yang jalur kereta pusat kota Tokyo, lalu ada JR yang kayaknya nyambung dengan kota-kota di seluruh Jepang. Tarif-nya pun berbeda dan jelas JR jauh lebih mahal. Serius sampai sekarang pun gue juga kurang paham. Untung ada aplikasi Japan Rail yang menyelamatkan gue (anyway, gue gak diendorse). Dan maafkan jika yang tinggal di Tokyo membaca tulisan gue ini, gue hanya menghabiskan waktu kurang dari seminggu di Tokyo. Jadi, harap dimaklumi jika gue salah.

Gue pun menaiki kereta satu per satu. Gue menempati sebuah apartemen di kawasan Komazawa yang  beberapa station dari Shibuya. Dan gue harus tiga kali ganti line hanya untuk pergi ke sana. Cobaan gue banyak banget. Karena membawa koper yang besar dengan berat hampir 16 kilogram, ditambah gue kurang tidur, dan tidak minum, gue harus menggeret koper itu naik dan turun tangga. Gue sedih ketika exit ke apartemen gue itu harus naik tangga. Gue pun memilih naik lift karena yang bener aja gue ngangkat koper itu naik 50 anak tangga?! 

But, guess what... karena gue mengabaikan instruksi host AirBnB, gue berakhir nyasar. Like literally gue gak tahu harus kemana. Gue berakhir di exit yang berbeda dan otomatis gak bisa ikutin panduan dari host. Gue pun muter sana-sini kayak orang linglung. Dan tidak ada yang tertarik untuk membantu gue juga. Padahal gue yakin kalo gue bisa ngeliat diri gue, gue pasti terlihat menyedihkan dengan wajah capek, nenteng koper, dan mata jelalatan nyari jalan. Gue pernah belajar di awal kuliah kalau budaya orang Timur adalah memberi arahan dengan patokan, beda dengan budaya orang Barat yang selalu jelas memberikan suatu alamat. Sekalipun negara maju pun, Jepang juga sulit dikenali dengan jelas.

Keajaiban dari Tuhan datang ketika gue menyebrang ke arah Seven Eleven, gue berjalan lurus dan gue mau nangis ngeliat alamat jalan itu persis dengan alamat apartemen gue. Tuhan masih sangat baik sama gue. Ketika gue melihat perumahan itu, sontak gue langsung teringat dengan perumahan yang digambarkan di komik Doraemon. Gue langsung semangat lagi apalagi ketemu juga apartemen yang akan gue tinggali selama seminggu itu.

Gue kira gue bisa segera naik dan menaruh koper dengan hati lega, tapi cobaan datang lagi. 
Gue yang udah capek banget dan gaptek, gak bisa buka pintu apartemen yang masih pakai sistem pin dengan pencetan dalam bahasa Jepang.

Gue rasanya pengen nangis tapi gak bisa karena kecapean. Gue mau beli minum di vending machine deket apartemen, tapi mesinnya mati. Untung gue belum masukkin duit kalo gak gue kayak orang bloon karena banyak orang lalu-lalang di jalan. Akhirnya, gue hanya celingak-celinguk doang berharap keajaiban muncul. Gue udah chat ke host gue minta bantuan, tapi dia cuman nyuruh gue baca manual book lagi dan karena gak enak gue kebanyakan bacot, gue pun nyoba-nyoba sendiri terus sampai mesinnya agak error

Kemudian datanglah dia. Seorang wanita paruh baya yang tersenyum ke arah gue ketika membuka pintu. Gue pun tanpa ragu bertanya kepada dia, "Excuse me, can you help me to open this door? The code number is XXXX". Dan yeah, rumor bahwa orang Jepang tidak pandai berbahasa Inggris memang benar. Dia hanya tersenyum membalas dengan bahasa dia, lalu membantu gue membuka pintu. Gue pun berterima kasih kepada dia yang membantu gue. Walau gue harus naik tangga ke lantai 3 dengan koper 16 kilo gue, gue merasa bahagia. 

Begitu koper gue udah ditaroh dengan aman di kamar, gue memutuskan pergi mencari makan dan minum sambil menunggu Michelle. Gue pun memutuskan ke Seven Eleven untuk membeli air dan dengan random gue mengambil sesuatu berwarna pink yang rupanya adalah mochi. Mochi itu kembali menyadarkan gue dan membuat gue lebih semangat. Gue pun pergi ke Mcdonalds di sebrang jalan dan makan kentang goreng yang gue rasa dipakein micin karena asinnya gak tahan. Gue jadi tambah haus setelahnya.

Gue seneng banget ketika akhirnya gue ketemu dengan Michelle di depan Mcdonalds. Akhirnya setelah setengah hari sendirian doang, ada juga orang yang bisa diajak komunikasi. 

Well, di bagian ini gue mau membahas awal perjalanan gue dimana gue mendapatkan pengalaman rasanya harus mengandalkan diri sendiri. Sebagai anak bungsu, gue menyadari bahwa gue terbiasa dibantu oleh orang yang lebih tua dari gue, otomatis gue jadi cenderung manja. Akhirnya, di ulang tahun gue kedua puluh (I just can't believe this number...) gue dipercayai oleh ibunda untuk jalan-jalan sendiri dan hasilnya luar biasa. This trip changes me quite a lot. That's why I feel sad going back to the reality (even I prefer to live in Jakarta).

Gue udah tau rasanya naik pesawat sendiri, gue belajar beradaptasi di lingkungan yang asing, gue menjadi semakin percaya diri dengan kemampuan berbahasa Inggris gue yang kayak level native speaker ketika ngomong dengan orang Jepang, gue belajar untuk lepas untuk bersenang-senang, gue bener-bener merasakan "let's get lost" untuk pertama kalinya. 

Anyway, gue gak sabar membagikan pengalaman gue ini, jadi tunggu aja posting selanjutnya di Part 2! Secepatnya gue akan tulis sebelum kembali masuk kuliah.

Love
Natasha

PS : Anyway, hampir dua minggu di Jepang, gue cuman bisa ngomong "Arigatou Gozaimasu". I'm that pathetic. 

14 January 2017

Living The Moment

I always known as someone who worries a lot. I get anxious over small things that actually should not be worried that much. I too always overthinking about something. Honest to say, I am not filled with positive energy. That's why, I'm prone to get stressed so easily.

Recently, I figured out that people get to experience the feeling of being anxious because we dislike uncertainty. Mainly because we still can't get over our past or we tend to think a lot about our future. It's not bad to learn something from the past and plan your future. But, things get serious when you're stuck in the past or future. When you're not able to live the moment. 

That's exactly my biggest problem. I always oversee my future and I forget to enjoy the current situations. I do this even since I was little. I remember when I was still a toddler, I thought, "How does it feel to be a grown up? When you have to work so hard to pay the bills. How to be superhuman that knows and can do anything for your child?". I know it's so strange for a toddler to think like that, but that's me.

Everytime I go somewhere, no matter it's only to shopping malls or travel far away from home, what I always think is "I can't wait to get over this and back to home". Yeah, I'm the kind of person who's stuck in my own comfort zone. I don't really enjoy the banter of life. Stepping out from my comfort zone overwhelms me. But as I get older, I realize how can you be more mature when you always stay still in your comfort zone? Life is about going out there, living the life! 

When I enrolled in Middle School, I started to plan where will I go for high school. I graduated, went to high school and did the same thing. I've known since ninth grade that I will take major in Psychology. My life is like that. I look ahead my future that I forget to live in the present. What you do now is your past's future, so yeah. That's why I feel like time flies so fast. I don't cherish the moments, I'm just afraid that time will be over so soon. 

Future is so mysterious. Everyone worries about their death. Nobody knows when, where, how will you die. It's so uncertain and it makes you anxious. You don't know who will come to your life. You don't know with whom you'll end getting married with. You don't know your future career. Today you can be so certain that you'll be A, but it turns out you are going to the B path. 

Life is so unpredictable like that. It frustrates you. It makes you think back that you're just a human. Sometimes, you just can't plan everything and it will turn out well. There will be a twist, but that what makes your life more meaningful. If you trust God, in the end you will realize you can't do nothing but let God leads you. 

Living the moment is the best way to live a happy life. Stop thinking "If only I could turn back time" or "What will happen to me?". You are what you do right now. Instead of worrying so much about the future, let's try to actually do something now. I want to study master's degree so bad in UK, so I'm preparing myself to study well (Both academically and my english!). But, again don't push yourself too hard. No one forced me to do master's degree, so in case I can't pursue my dream, it means it's not my destiny. 

A little tip from me, if you ever feel life treats you horribly, talk to someone you can trust. They may not give you the best advice, but it still better than keep it to yourself. If you are shy, you can write in your journal. If you don't feel better than I suggest you to seek for professional help (psychologist, psychiatrist, etc). 

Love,
Natasha


PS : Living the moment not equals to Y.O.L.O :) you have to enjoy the time you have now, do something, think realistic, so that you don't have to worry about your future. Because what you do know will affect your future :)
Remember to choose wisely. 




2016 in Nutshell

Many people said 2016 was a mess. 2016 took away so many great people. 2016 was the year of many twist events. 2016 overall was considered to be one of the worst years in history. 

What about me?

Personally, 2016 was a good year for me. I finally went to UK, my dream country. It was wonderful and memorable journey that I still keep thinking about until now. It seems I can't really move on from UK. I visited so many cities across England and Scotland. I stayed around 10 days in London, went to Bath (amazing city by the way), Swindon, Liverpool, Manchester, Glasgow, Carlisle, Stirling, Edinburgh (my favorite), York (another good place), Sheffield, Newcastle, Nottingham,  King's Lynn (small but amazing town), and Norwich. Too bad I didn't go to South England or Ireland :( but I will, someday. 

Apart of travelling, 2016 was not my year. I was at the top of my happiness when I went to UK, but at the same time, I felt the worst of my life in late 2016. College life was totally hectic. I felt like I couldn't handle myself. I lost contact with myself. I felt so vulnerable, weak, and useless. That year, I got experienced what I only learnt in class. I got sick like 3-4 times in one semester. The worst part is I felt hopeless to achieve my dream as a psychologist. It was that bad that close people around were worried about me. 

So yeah, 2016 was not a good year for me too. Because, the bad things outdid the good things that happened. 

But still thanks for the memories, the lessons, the pain, the joy, the sadness, the anger, the happiness that I experienced 2016!


I know it's already mid-January but HAPPY NEW YEAR! I hope 2017 will be better. 

Love
Natasha

27 August 2016

Stressed Out

Okay, di tengah malam yang seharusnya bisa gue pake untuk tidur atau mengerjakan tugas, justru gue gunakan untuk mencurahkan perasaan. You know why? Cause I feel so stressed out right now.

Kuliah di semester 3 baru berjalan 3 minggu dan gue merasa seolah 3 bulan sudah berlalu. Mungkin ini karena dampak semester 1 yang sangat santai, semester 2 yang masih dapat gue handle dengan baik karena jadwal yang enak dan mata kuliah yang cukup menarik2. Memasuki semester baru ini, so far gue merasa semakin jauh dari ilmu Psikologi. Terlalu banyak belajar hal-hal yang istilah-nya, gak ada Psikologi-Psikologi-nya. Maybe because I don’t really like doing research, so I can’t really enjoy this semester classes (that mostly related to research)

Besides, tugas yang diberikan terasa never-ending. Setiap dosen seolah berlomba-lomba memberikan tugas yang banyak. I don’t say, tugasnya susah banget sampe gak bisa dikerjain, we can still manage it but you know some of them it’s tricky and need extra effort. Kayak tiap minggu bisa aja gitu tiga mata kuliah yang berbeda mengharuskan kita membuat kolase :) Saya kayak ganti jurusan desain. Belum lagi ketemu biologi yang sebetulnya gue suka, tapi karena gak pernah lagi belajar bahasa latin selama tiga tahun, bener-bener kepala gue mau meledak.

Ditambah lagi, gue mengikuti kegiatan kepanitiaan yang honestly, cukup menyenangkan untuk dijalani. I met new friends, I become more aware with other psychology students, and it challenge me to stay out from my comfort zone. Sebagai seorang introvert yang tidak pernah terlibat dalam organisasi, I feel kind of proud with myself karena tidak merasakan gejala kecemasan sosial. 
Until, today. 

Jadi, acara pertama akan dimulai minggu depan. Gue akan terlibat juga dan tugas gue cukup berat karena gue sendiri tidak ahli di bidang olahraga. So, I'm actually have no idea and kind of afraid to make mistakes. Stupid ones. Karena aslinya, gue mengira hanya akan fokus di acara gue yang bergerak di bidang sosial. Acara cup olahraga means gue bakal pulang malam. And then, gue kepikiran dengan tugas-tugas gue yang sangat banyak dan juga perasaan tak nyaman mendengar kata "pulang malam". 

You can call me nerd, anak rumahan or whatever you want, tapi serius gue gak pernah pulang rumah malem selama sekolah. Maupun kuliah. Kayak tadi, bener-bener baru pertama kali gue pulang jam setengah sembilan malem dari kampus. Dengan kondisi gedung yang udah sepi gak ada kehidupan. And I feel odd. It's not Natasha that I used to know. 

Ditambah lagi, gue memang punya kecemasan parah terhadap masalah pulang ke rumah. I don't like the feeling going home alone by public transportation. I can't take taxi after the sun goes down (thanks to Jakarta's high criminal rate). I can't drive (not yet). I also don't like the idea to go home by Ojek (but actually this is the best choice I have). I have someone to pick me up actually, but going home very late with him... I don't like the idea either. This has been my second biggest concern after never-ending assignment.

Kecemasan gue tidak berhenti di situ saja. Kebetulan, bokap gue sedang ada di Jakarta. I haven't met him for a year, so I miss him so much. Gue benci diri gue karena terlalu mencemaskan kuliah, dan agak mentelantarkan dia sendirian di rumah. He's going back to Malang in 3 days (the same day with the big event) and I haven't spent much quality time with him. It's because I'm very busy!!!
Gue berada di posisi kejepit antara mempertanggung-jawabkan tugas gue sebagai mahasiswa & anggota panitia atau menghabiskan waktu dengan keluarga. I mean, kapan lagi gue bisa ngumpul berempat? :( 

Oyeah, kecemasan tambahan lagi adalah rencana pernikahan cici gue yang akan dibahas besok. Dimana gue juga harus ikut menyaksikan perdebatan antara kedua keluarga mempelai. Setiap kali gue inget kalau sekarang cici gue sudah bertunangan dengan pacarnya, gue berpikir "Why time goes so fast? I can't believe she will live with someone else. Leaving me behind alone at home"
I just want to spend more time with my big sister. I want to go back to the time we play "masak-masakan" together. Maybe, because I still believe wedding it's very far from my thought right now. It's an adult thing.

I don't like the part of my life when I have to concern so many things in life. It happens because I worry a lot. I can't stop worry until I can solve all of my problems. Mungkin, gue bertahun belakangan ini menjalani hidup malas cuman sekolah, nonton acara TV korea atau talk show amerika, dengerin lagu, baca buku, dan yeah menulis. Satu hal yang gue sangat sedih karena kesibukan hidup gue yang baru adalah hilangnya waktu untuk menulis.

Padahal, gue pengen banget menulis dengan serius sejak gue udah belajar banyak di liburan kemarin. Unfortunately, I just have no time to do it. I'll be tired already, or have nothing to write. Sedih aja karena gue merindukan masa gencar-gencarnya gue menulis. I feel so unproductive.

Sekarang adalah waktu untuk merenungi diri sendiri. Pertama, gue merasa sangat stress karena menjauh dari Tuhan. Okay, kalian boleh muntah denger-nya karena cheesy banget gue bawa-bawa agama. But, I'm serious, gue kayak mengalami lagi pengalaman kalau gak mengandalkan Tuhan dalam segala hal itu membuat hidup lo kacau-balau. Suddenly, I remember that He taught us to stop worry, because He will always be in our side even if we are struggling and have hard time in life. 

Kedua, gue memang harus mengurangi sifat buruk gue yang terlalu cemas dan mengeluh akan sibuknya hidup (like I told you before, I live a passive life, a flat-kind-of-life, not interesting life at all life). Gue berpikir, beginilah rasanya jadi orang dewasa. Setiap hari menghadapi tantangan, masalah, dan kesibukan yang tiada habisnya. Dan gue udah dapet gambaran bagaimana diri gue di masa depan.
I will be the one who can't manage time very well. I will be the workaholic type. Gue akan menjadi si tegang yang tidak bisa bersantai di hidupnya. Bahkan ketika sedang liburan sekali pun :)

Ketiga, just solve all of the problems, loosen up myself, enjoy the life, and face the reality. Karena, gue juga punya kecenderungan untuk hidup di alam impian. I recognize myself for being a dreamer, so yeah it's hard for me to live the 'real' life. I didn't say I have some delusional disorder though. I'm completely aware of my real life. Sometimes, I just feel clueless about living the life since I'm not a practical-person.

Well, dipikir-pikir lagi setelah merenung dan mencurahkan emosi gue lewat post ini, I feel quite better. Sepertinya, gue bisa mempertimbangkan writing therapy buat orang yang punya gangguan kecemasan seperti gue :') 

I just wish I can face this uncomfortable feeling as soon as possible. 

Wish me luck!

Lots of love
Natasha 

PS : I'm seriously need relax time with no assignment and duty to take care!!! So I can just sit comfortably in front of my computer, enjoying good food, and wake up whenever I want! 

25 June 2016

Being An Independent Woman

Gue merasa kalau most girls have no intention to pursue career. Well, thanks to my super Mum, an independent woman who works hard for her family, gue tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang gak punya mental mengandalkan suami di masa depan. Gue ngerasa sebagai seorang perempuan, gue juga harus bisa secara mandiri mencari uang sendiri dan punya tabungan sendiri. Gue gak bilang kalo jadi ibu rumah tangga itu salah, tapi imej ibu rumah tangga seakan digunakan anak perempuan yang udah hopeless dengan kuliah. Dengan dunia kerja di masa depan. Dengan karir mereka sendiri.

Gue paling benci ketika gue mendengar ada anak cewek bilang "Gue mah abis kuliah nikah aja deh, cari suami kaya, ngurus anak suami, belanja, udah deh hidup tenang"
I feel like... oh God, bener-bener suatu pandangan yang sempit banget. Kasarnya, "Memang gampang apa cari cowok konglomerat?" dan lebih penting kita semua miskin kalau kalian dapet pacar kaya itu orangtuanya yang kaya. Sangat jarang menemukan anak muda yang kaya raya dari hasil keringatnya sendiri.

Okey, I also notice that most of women end up being stay-home mother. Gue sendiri juga punya keinginan gitu nanti pengen deh ngerawat anak dengan sepenuh hati. Tentu sebagai wanita, kita semua punya rasa keibuan itu setelah nanti melahirkan anak sendiri.Tapi, memangnya jadi ibu itu semudah bayangan kita juga? It's not easy, girls.

Menurut teori psikologi perkembangan yang sudah gue pelajari, peran orangtua or at least pengasuh (caregivers) sangatlah penting buat perkembangan. Bahkan, cara orangtua menyanyangi anaknya di masa bayi, bisa memprediksi bagaimana anak tersebut menyanyangi orang lain di masa dewasa. Seriously, being parents is hard. Salah mendidik anak aja, bisa berakibat fatal bagi si anak di masa depan. Semua pelajaran yang gue pelajari selama kuliah psikologi, semuanya tidak terlepas dari peran orangtua di masa bayi.

Menjadi orangtua, otomatis menjadi panutan orangtua. Kalau kita sendiri masih belum "genah" sebagai seorang individu, bagaimana bisa mengajari orang lain?  Dan untuk menjadi orangtua yang baik, kita toh juga harus berpendidikan. Gue percaya bahwa semua orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Kalo liat film dan buku kayaknya orangtua tuh rela mengorbankan diri mereka buat anak-anaknya. Mereka rela kerja sampe lembur berhari-hari demi anaknya bisa sekolah tinggi. Jadi... menurut gue alangkah lebih baik sebelum kita menjadi orangtua, kita harus punya bekal pengetahuan yang banyak agar anak kita juga menjadi orang yang lebih baik.

Sebagai wanita, kita harus sadar bahwa posisi kita di masyarakat sekarang sudah setara dengan pria. Tidak seperti abad-19, zaman ketika wanita masih susah banget mendapat pendidikan. Mereka akhirnya hanya bisa menjadi stay-home mother and take care of her family. Tapi, lihat sekeliling kita sekarang, wanita justru lebih rajin dan punya nilai yang tinggi dibanding pria. Budaya kita juga perlahan berubah. Sekarang, gak sedikit wanita yang juga bekerja bukan karena meninggalkan tanggung-jawab sebagai ibu, tapi keadaan ekonomi pun salah satu alasannya. Terutama jika tinggal di kota besar, rasanya kalau gak nikah dengan konglomerat, kayaknya sulit bertahan dengan gaya hidup ibukota yang fantastis, hanya dengan mengandalkan uang suami. (It's a different case if you marry a royalty or super rich family)

Menjadi seorang pesimis juga membuat gue sadar akan suatu hal. What if someday you both get divorced? What can you do if you have no good education and savings? Can you survive? Can you let go your fabulous lifestyle you once had because you realise you have nothing? Don't say cheesy thing like "Oh, we will live happily until death do us apart". I'm not that kind of girl...
Sebetulnya, ada banyak pengaruh yang gue dapatkan sehingga bisa punya pemikiran keukeh bahwa seorang wanita harus mampu cari uang sendiri.

To be honest, gue sadar gue anak yang manja. Gue terbaisa serba dibiayai dan hampir selalu permintaan yang gue inginkan dituruti mama gue. Gue sekarang khawatir banget memikirkan kehidupan gue kelak. Bagaimana caranya gue bisa sukses seperti nyokap? Gimana caranya menaikkan saldo di rekening gue tanpa meminta nyokap? Yep gue bukan practical-type person, gue cuman bisa membayangkan gue membuka jasa konseling sembari menjadi penulis sebagai sampingan. Good news is gue bisa melakukan itu semua di rumah! I hope I can really do it... #jadicurcol

SO, what I want to emphasise is don't be such a fool woman who can only depends to her husband. Be intelligent and independent instead. I may never experience dating such thing, but I'm sure guys don't just get interested with your look or body. They will look for women with high-quality inside them. You buy Louis Vuitton because it's luxurious brand that shows prestige, but Louis Vuitton it's not just about the appearance. The quality of their bags, shoes, belts, etc does matter too! You can wear Louis Vuitton shoes for many years without getting broken a little bit. That's why people are so eager to buy it. It's like you fishing with only a bait, but get two fishes instead!

I may little bit sexist to say this, but WHO RUN THE WORLD? GIRLS!

Love
Natasha