Hey there!

I'm Natasha, the author of this blog. I'm also a psychology student who is working hard to be a novelist. I like thinking deeply mainly about life. I'm not a wise person, I'm simply just a girl who wants inspire the world through my writing.

Hope you enjoy every single of my posts.

Lots of love!
Natasha

PS : Feel free to comment on my posts, I will definitely reply to your comment!


BLOG READERS SURVEY
Please kindly do this survey, it will only take a little of your time! :)

28 March 2015

FOUR by One Direction Review

Yeah, jadi album keempat 1D ini rilis pada bulan November 2014 silam. Setelah gue liat-liat, baru kali ini gue agak terlambat review album mereka. Mungkin karena jujur aja nih yah, gue merasakan album ini tidak se-nampol album-album mereka sebelumnya. Ditambah gue sangat sibuk tahun ini (cieh) dengan berbagai ujian-ujian yang membuat gue jadi malas mendengar lagu baru. Lebih milih lagu-lagu lama yang udah gue kenal. Walau begitu, seperti ciri khas 1D, lagu  mereka harus didenger berkali-kali baru terasa betapa enak dan unik lagu-lagu mereka.

Di album keempat yang diberi judul "Four" ini, nama album ini agak mengundang kontroversi. Memang maksud mereka memakai nama "Four" itu karena ini album keempat mereka, udah empat tahun mereka bersama sebagai 1D, dan yang salah persepsi lagi adalah akan ada satu member yang pergi karena namanya cuma empat. Well, mungkin kalian udah tahu Zayn Malik memutuskan keluar dari 1D pada hari yang sama 1D konser di Jakarta. Tidakkah agak kejam harus banget pas konser di Jakarta mereka umumin Zayn keluar? :'))
Tapi tidak perlu dibawa serius. Zayn keluar karena dia lelah dengan media yang terlalu menekan dirinya. Dia orang yang agak tertutup dan gak suka urusan pribadinya diumbar-umbar di media, jadi tidak heran kalau pada akhirnya Zayn tidak tahan lagi dengan serangan-serangan jahat dari media massa dan jejaring sosial.
Gue tidak kaget karena gue tahu sooner or later Zayn bakal menyerah. Hidup menjadi anggota boyband termashyur se-dunia tidaklah mudah. Jadi, kita harus tetep dukung keputusan Zayn untuk istirahat dari kepenatan menjadi orang terkenal. Dia hanya butuh hidup normal tanpa kehidupannya dibuntuti terus sama fans-fans dan wartawan yang jahat.

Back to the topic, gue akan megomentari lagu-lagu di album keempat mereka ini. Overall, gue kurang merasa greget dengan album Four. Genre mereka mulai berganti lagi jadi seperti di Up All Night yang tidak bisa dikategorikan secara spesifik masuk ke aliran musik apa. Tapi yah tentu aja lagu-lagu 1D itu pop semua. Di album keempat ini, gue menemukan banyak lagu-lagu unik dan lirik-lirik yang menggambarkan hati the lads secara pribadi mungkin. Gue bahkan menangkap ada lagu yang emang didedikasikan buat orang yang mereka cintai. Alias pacar mereka.

Let's begin!
Rating :
1 - I'm disappointed 
2 - Acceptable
3 - Not Bad 
4 - Good
5 - Definitely must-add-song-to-your-playlist


1) Steal My Girl (3)

Entah mengapa gue tidak begitu menyukai single-single 1D. Lagu ini awalnya terasa hambar di telinga gue, tetapi setelah didengar-dengar rupanya yah enak didengar. Musiknya enak, liriknya seperti yang gue bilang bisa jadi perasaan sesungguhnya the lads yang udah taken. Video klip mereka yang di sini lucu sih ngeliat Louis main sama simpanse, tetapi dari segi plot, video klip-nya tidak ada cerita yang disampaikan. Lagu ini mungkin bukan the best song, tetapi bisa dengan sendirinya kita nyanyiin reff lagu tanpa disadari.

2) Ready To Run (3)

Another lagu 1D yang harus dibilang bagus cuman tidak bisa nendang. Yang gue suka dari lagu ini reff-nya yang menjadi titik klimaks yang menyelamatkan lagu ini. "Cause I wanne be freee" - itu bagian yang enak. Zayn's high note dan the lads lainnya patut diacungi jempol di akhir lagu ini.

3) Where Do Broken Hearts Go (2)

Dari intro-nya gue merasa lagu ini bukan "The One". Secara lirik lagu ini bagus, tetapi musiknya entah kenapa kurang membuat lagu ini jadi lagu yang enak didenger berkali-kali. Yang gue kurang suka mereka teriak "Where do broken hearts go" dengan musik yang agak berantakkan. Jadi, orang kurang bisa menikmati lagu ini dengan nyaman. Sorry boys, this is just my opinion.

4) 18 (4)

1D mungkin memang jagonya bikin lagu mellow. Lagu ini dari awal terdengar menarik untuk didengar lebih lagi. Alur lagunya bener-bener bagus. Dari awal dengan suara gitar akustik yang tenang, lalu makin ke reff jadi klimaks! Semakin didenger berkali-kali, gue semakin merinding dan jatuh cinta mati sama lagu ini! Apalagi waktu mereka berlima nyanyi reff-nya itu kayak menyihir hati banget deh. Siapapun orang yang ditunjukkan di lagu ini, ia adalah orang yang beruntung!

5) Girl Almighty (4)

Yeah, gue awalnya membenci lagu ini karena terpengaruh intro-nya yang aneh. Namun, memang lagu 1D harus dikasih kesempatan didengar sampai akhir lagu. Setelah menjelang konser, gue baru mencoba denger-denger lagi secara intens. Alhasil, gue jatuh cinta ama lagu ini! Lagu ini unik. Yang paling gue sukai adalah bagian "Let's have another toast for the girl almighty" apalagi waktu Niall yang nyanyi! Maybe, gue bisa jatuh cinta sama Niall karena ini! Hehehehe, good job guys! Gue suka lagu yang punya ciri khas seperti ini.

6) Fool's Gold (5)

Ini lagu kedua yang gue suka dari Four. Gue ngerasa lagu ini menggambarkan bagaimana lagu 1D seharusnya. Gue merasa terkenang dengan album-album sebelumnya yang menghasilkan lagu serupa seperti lagu ini. Liriknya pun juga bagus. "But I don't regret falling for your fool's gold". Lagu seperti ini yang menggambarkan bagaimana 1D sebenernya. Bagian Liam juga enak banget "I'm the first to admit that I'm reckless, I get lost in the beauty and I can't see..." itu entah mengapa juga menyihir hati gue lagi. Great job lads!

7) Night Changes (5)

Definitely ini lagu terbaik di Four. Gue tidak punya komentar lagi tentang lagu ini. Again, ini salah satu lagu 1D yang membuat gue jatuh cinta dari pertama kali mendengarnya. Semuanya terdengar oke. Gue tidak bisa berhenti menyanyikan lagu ini. Ketika lagi bengong, tiba-tiba refleks nyanyi lagu ini. Itu sudah menunjukkan bahwa lagu ini memang addictive!!! Video klipnya? No doubt, Gotta say it was the best 1D's MV EVER!!! gue masih inget nangis pertama kali liat videonya. Memang pathethic cuma bisa virtual date sama mereka, tapi OMG itu impian semua directioners di dunia!!! Ketika denger bagian reff-nya, rasanya sedih banget dan gue seakan ikut merasakan kesedihan lagu ini. BEST SONG EVVEERR

8) No Control (4) 

Lagu ini uhm seingat gue sih lagu semangat yang kedua gue sukai di album Four. Entah mengapa musiknya pengen bikin badan goyang-goyang. Reff-nya pengen dinyanyiin terus. Apalagi suara Louis terdengar agak lebih kencang dibanding yang lain. Bagian terbaik dari lagu ini adalah mungkin "Waking up, besides you I'm a loaded gun, I can't contain this anymore, I'm all yours , I've got no control, Powerless...." dengan musik yang semangat. Mungkin kesukaan gue akan musik rock, membuat lagu ini terdengar enak buat gue!

9) Fireproof (4)

Lagu ini kalau gak salah sempet bocor sebelum album Four rilis. Gue pun download lagu ini pertama kali diantara lagu-lagu lainnya. Lagu ini menurut gue bagus. Intro-nya enak. Liriknya juga bagus. Somehow, gue ngerasa tenang dan bawaannya ngantuk denger lagu ini. Mungkin karena lagu ini cenderung konstan dan stabil. Tidak ada bagian "klimaks" yang membuat lagu ini jadi big hit. Tetapi, lagu ini enak didenger ketika lagi pengen bersantai ria dan menenangkan pikiran. Gue tershir lagi ama bagian Niall pas "I'm feeling something deep inside". Kenapa sih Niall lo lagi nyihir orang mulu di album keempat? Hehehehe

10) Spaces (3)

Well, ini lagu gue dengerin karena katanya dinyanyiin pas konser. Namun, ternyata enggak. Menurut gue lagu ini walau kurang enak, tertolong dengan reff-nya yang bagus. Lagu ini lucu dan menyedihkan juga. Meningat kondisi fandom 1D yang kehilangan Zayn. Lagu ini seolah memberi tanda-tanda, "Who's gonna be the first to say goodbye?".... Di sisi lain, gue pernah liat gambar bikinan directioner, membandingkan panggung 1D dari waktu ke waktu yang makin menjauhkan kita dengan the boys. So yeah it's true. "Spaces between us keep getting deeper"

11) Stockholm Syndrome (4)

Lagu ini baru gue suka tepatnya beberapa hari belakangan ini. Jadi, itulah mengapa gue memberi angka 4! Awalnya ketika gue baca judul lagunya aja gue kira bakal jadi lagu gak jelas lagi, tetapi gue mencoba mendengarkan karena mereka bakal nyanyi di konser. Hasilnya, baru dua hari dengerin berturut-turut gue menyukainya. Di sini bagian Harry di depan yang gue suka. Dan reff yang pas bagian "Baby look what you've done to me". Dan lagi lagi Niall pas nyebut "Stockholm Syndrome" gue juga suka! Duh.

12) Clouds (3)

Gue suka lagu ini karena yeah ini lagu yang pertama dinyanyikan mereka pas konser!!! Rasanya gue inget merinding banget denger mereka nyanyi secara langsung di telinga gue. Pengen nangis kalo diinget lagu. Reff-nya itu loh ampun deh... suka deh sama reff-nya. Lagu ini bakal terkenang sebagai lagu pertama yang gue denger dinyanyikan langsung secara nyata oleh mereka! Huhuhu

(DELUXE EDITION)

13) Change Your Ticket (4)

Nah kalo No Control lagu kedua yang gue suka, ini lagu semangat pertama yang gue sukai di Four. Yang menonjol dari lagu ini adalah liriknya. Gue awalnya aneh juga baca judul lagunya yang kalau di-translate itu "Ganti Tiket Lo". Setelah gue denger, lagu ini kenapa kayak membuat gue bayangin the lads nyanyiin lagu ini buat pacar mereka yang ditinggal? Terutama si Liam Payne. Gue denger suara dia paling kenceng di reff *nah loh*. Gue tau ini pasti buat Sophie, Liam :(
Walau bayangin lagu ini buat pacar mereka dan sakit hati, tetapi lagu ini jelas enak untuk didenger!

14) Illusion (3)

Honestly, gue baru sekali dengerin lagu ini secara full. Gue tidak menyukai bagian awal lagu ini ketika Harry menyanyi "It's not Illusion". Itu yang membuat gue tidak mau melanjutkan mendengarkan lagu ini. Tetapi, dilihat dari segi lirik, lagu ini bagus. Namun, lagu ini cenderung datar dan berantakan, jadi lagu ini yah itu tidak bisa mendapat predikat "lagu enak". Hanya standar.

15) Act My Age (2)

Kebalikkan dari Illusion, gue malah lebih suka intro lagu ini. Harapan gue sudah tinggi mendengar intro lagu ini yang semangat, tetapi ternyata malah jadi cenderung datar. Nada lagunya pun juga datar. Lirik lagunya agak kekurangan isi. Musiknya gotta say enak dan unik, tetapi ketika bercampur dengan nyanyiannya dan lirik... gue merasa kurang nyaman mendengarnya. But, I bet the lads won't act like their actual age so bad

16) Once In a Lifetime (5)

Nah ini nih. Meningatkan perasaan yang sama ketika gue pertama kali mendengar Half A Heart. Gue suka ketika 1D bikin lagu semacam ini. Musiknya yang agak tenang, ditambah lirik yang menyakitkan hati, serta suara the lads yang lembut.... ini lagu yang ditunggu directioners! Definitely you have to add this song on your playlist! Tapi beware, yang lagi broken heart, gue tidak menyarankan lagu ini karena mungkin bisa nangis bombay. Suara Louis emang paling cucok sama tipe lagu seperti ini!!! Dan mennn, suara Liam di akhir lagu bener-bener buat lagu ini menyihir para cewek!

***

Jadi, bisa disimpulkan album Four ini cukup menarik. Wajib dibeli. Meski bukan album terbaik 1D, tetapi di album ini tetep ada lagu-lagu hits yang mengalahkan lagu-lagu di album sebelumnya! Gue menyimpulkan lagu-lagu slow di Four menjadi juara. Di album ini, lagu-lagu "ngambang"- yang tidak jelas antara lagu semangat apa sedih- ciri khas 1D, tidak se-nampol album sebelum-sebelumnya.
Semoga di album selanjutnya, the lads bisa berkarya lebih baik lagi!!! Dan mungkin akan membuat album terbaik sepanjang karier mereka menjadi boyband? We will see!!!

Love
Natasha

PS : Agak kecewa karena pas nonton konser gak liat muka the boys :( cuma bisa lihat dari kejauhann.... tetapi seneng bisa nyanyi teriak-teriak bareng the boys!!!! WOWWWW Can't believe they finally came to Indonesia!!!

27 February 2015

My Own Interpretation of Religion and Faith

Indonesia adalah salah satu negara yang dikatakan religius di dunia. 99%(menurut Wikipedia) penduduk Indonesia menganggap bahwa agama itu memegang peranan penting dalam kehidupan.
Jadi bisa bayangkan dari 250 jt penduduk, 99% itu bisa dibilang menganut agama.

Hal yang membuat gue bangga menjadi orang Indonesia memang adalah gue bahagia bisa lahir di negara yang tidak mengesampingkan agama. Dan mungkin inilah juga mengapa Indonesia termasuk negara yang bahagia. Kita memeluk agama masing-masing. Kita diajarkan untuk selalu berserah kepada Tuhan, dan tidak perlu khawatir dengan apa yang terjadi dalam hidup kita karena Tuhan pasti akan membantu jalan kita.
Dan yeah, agama di Indonesia sangat dijunjung tinggi. Sila pertama dalam pancasila saja sudah jelas, "Ketuhanan Yang Maha Esa" :)

Gue di sini tidak akan membahas tentang berbagai agama di Indonesia karena nanti akan menimbulkan konflik. Gue tidak ingin membuat konflik aneh-aneh di internet. Gue hanya mau menuangkan pemikiran-pemikiran gue tentang agama gue sendiri. Apa sebetulnya agama itu, mana yang lebih penting agama atau keyakinan? Dan bagaimana realita yang terjadi di kehidupan nyata.

Gue terlahir dan dibesarkan dari keluarga yang menganut agama minoritas di Indonesia. Lebih tepatnya kedua terbesar, dan yeah sudah bisa ditebak gue beragama Kristen dengan aliran Protestan. Kenapa harus gue tekankan gue ini protestan? Karena walau protestan dan katolik itu serumpun, tapi sebetulnya ajaran-ajarannya cukup berbeda jauh. #NoHateOkay

Gue ikut sekolah minggu dari sekitar kelas 1-2 SD. Gue lalu putus ke gereja sekitar kelas 3-4 SD, dan kembali pergi ke gereja sendirian, sekolah minggu sendirian di gereja deket rumah gue dari kelas 5-6 SD. Dan setelah itu perlahan gue dan kelaurga gue bersama-sama pergi ke gereja yang sedang berkembang pesat di Jakarta atau mungkin Indonesia? Gereja aliran Kharismatik, dan well gue tidak begitu merasa meresapi aliran itu 100%, tetapi pada dasarnya gue menyukai gereja gue ini.

Sejak 24 Desember 2013, gue dengan sedikit paksaan dibaptis di gereja. Walau gue dipaksa, gue waktu itu inget banget gue sampai menitikkan air mata minta ampun sama Tuhan, gue dibaptis dengan setengah hati. Meski dipaksa begitu, bukan berarti juga gue tidak mau menjadi murid Tuhan Yesus, gue hanya merasa diri belum siap. Gue masih umur 16 tahun waktu itu. Dan gue merasa gue masih harus belajar banyak, menguatkan iman gue lagi dan baru dibaptis. Tetapi, beginilah kenyataannya gue dipaksa dibaptis karena pada umumnya anak seumuran gue itu yah harus dibaptis. Padahal gue punya pandangan bahwa dibaptis itu harus berdasarkan gerak hati diri sendiri.
It's okay though, I'm so happy right now being officially the daughter of God.

Let me tell you something, hidup mengikuti Tuhan itu berat. Dunia ini kejam. Sekejam-kejamnya. Ada paham-paham yang meragukan keberadaan Tuhan. Tahu darimana Tuhan itu benar-benar ada?
Semua orang seakan bertentangan dengan ajaran agama. Kadang kita terbawa arus itu, dan kita sendiri juga jadi bertanya-tanya, apakah Tuhan beneran ada? Dan disitulah iman kita sesungguhnya diuji.
Iblis bekerja keras untuk meruntuhkan pertahanan iman kita yang kokoh, tetapi Tuhan juga ikut bekerja keras untuk menyertai kita.
Yeah, setelah mengaku percaya, cobaan semakin berat, tetapi semua itu dimudahkan karena Tuhan memimpin jalan kita selalu.

Secara pribadi, gue bukan aktivis gereja. Gue hanyalah anak remaja yang setiap minggu mengikuti kebaktian umum, berdoa sekali saat malam hari, membaca alkitab minimal satu pasal sehari. That's all. Gue tidak dibilang se-religius itu.
Gue sering mengamati orang-orang yang mengaku dirinya pelayanan di gereja, mereka dari luar kesannya kayak "anak Tuhan banget", tetapi ketika kembali ke kehidupan sehari-hari, sifat baik mereka itu lenyap. Mereka melakukan dosa.
Bukan maksudnya manusia tidak boleh melakukan dosa, toh kita tidak ada yang sempurna, tetapi kemanakah iman yang ia pupuk tiap hari minggu itu?

Dalam alkitab tertulis bahwa iman tanpa perbuatan itu kosong. Gue semakin mempercayai ini. Gue kadang suka sedih dan heran, melihat teman-teman gue yang susah payah belajar sampai begadang, mereka well mengaku juga rajin ke gereja, tetapi mereke menyontek. Gue bukan merasa sok suci karena tidak suka menyontek. Tahukah dimana bagian paling sulit?
Ketika gue dianggap tidak asyik, tidak merasakan kehidupan sekolah yang sesungguhnya karena tidak menyontek. Apa yang bakal dikenang nanti saat lo gede kalo lo rajin belajar terus? Inilah hambatan yang harus dihadapi.
Salahkah ketika gue mengaplikasikan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?

Manusia sering lupa bahwa yang terpenting adalah melaksanakan segala perintah Tuhan. Kita harus mengampuni terus tiada henti kepada siapapun yang berlaku jahat kepada kita. Kenapa? Karena Tuhan aja gak lelahnya mengampuni dosa-dosa kita yang terus menumpuk.
Tapi apakah segampang itu memaafkan orang? Apakah bisa kita maafin orang yang #letssay menghancurkan karier-mu? membunuh keluargamu? membuat hidupmu hancur berantakan?
Manusia lupa karena seringkali terbawa perasaan dan emosi sesaatnya lebih dulu.

Gue bisa dibilang penikmat musik duniawi alis gue jujur aja kurang suka harus mendengar lagu rohani. Walau ada beberapa lagu rohani yang gue suka (karena pembawaannya yang mirip band rock, Hillsong if you curious to know). Gue dibilang penyembah berhala, well mungkin ada artis yang gue gilai agak ekstrem, tetapi gue kan tidak berdoa kepada mereka... atau apalah. Gue hanya sesimple mendengarkan karya seni mereka. Gue juga punya pikiran jernih dengan dunia nyata. Disitulah gue kadang merasa agama itu kadang membuat seseorang menjadi berpikir berlebihan.

Sekarang kita bahas tentang agama dan keyakinan. Agama itu menurut gue hanyalah status. Kayak di KTP, di kolom agama gue ditulis "Kristen", that's all. Semua orang di Indonesia mungkin punya agama karena kolom agama itu toh harus diisi. Sekarang gimana dengan keyakinan?
Gue percaya bahwa keyakinan itu lebih bersifat pribadi. Mungkin keluarga kita semua beragama sama, tetapi dalam hati mereka, mereka mempercayai hal yang lain. Keyakinan itu lah yang disebut iman, dan kita pribadi lepas pribadi yang harus menguatkan iman kita untuk tumbuh selalu menjadi umat beragama.
Agama saja tidak cukup tanpa ada keyakinan kuat untuk mempercayainya dan menjalani dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah lain lagi adalah banyak yang ikut-ikut orang ganti agama. Gue punya beberapa teman yang lahir dari keluarga non-Kristen, tetapi mereka pergi ke gereja. Mereka seakan ada niatan untuk pindah ke agama Kristen. Gue pribadi senang karena mereka bakal mengenal Tuhan yang sangat baik. Namun, gue kadang bertanya-tanya apa tujuan mereka pindah agama? Apakah hanya karena teman-teman mereka semua Kristen, pacar mereka Kristen, orang yang dia suka Kristen? Apakah karena itu aja dia mau pergi ke gereja?
Gue lagi-lagi mikir percumalah semua ibadah itu kalau mereka masih belum mampu menjalankan firman Allah dalam kehidupan sehari-hari mereka. Percuma jika mereka merasa takkan mampu hidup tanpa kehadiran Tuhan di sisinya.
Ketika kita memutuskan untuk menganut suatu agama, seharusnya kita juga harus terus mengenal Tuhan kita sendiri. Kita harus tahu siapa yang kita percayai.

Gue menulis ini karena gue punya interpretasi sendiri tentang agama. Gue punya pemikiran sendiri bagaimana seseorang seharusnya menjalankan agamanya dengan benar.
For me, apa yang sudah menjadi aturan dalam agama harus dijalankan, dan yang terpenting adalah menerapkan segala perintah-perintah Allah dalam kehidupan sehari-hari. Firman Tuhan itu bukan cuma berlaku di hari Minggu, tetapi setiap hari dan setiap waktu. Ketika kita mau berbuat sesuatu yang udah tahu kita salah, disitulah iman kita diuji. Apakah kita tetap akan melakukannya? Atau berusaha mengendalikan diri karena tahu itu perbuatan dosa?

Jadi, teman-teman seiman sekalian dan bagi yang juga bukan kaum nasrani, menjadi umat beragama ditengah kondisi dunia yang gempar dan semakin meninggalkan Tuhan ini itu penting. Tetapi lebih penting lagi juga kalau kita setiap hari memperkokoh terus iman kita kepada Tuhan. Jangan sampai ada cela yang membuat iman kita goyah. Bagaimana caranya? Terus berkomunikasi sama Tuhan setiap hari melalui doa, baca firman Tuhan juga, dan berbuat baiklah setiap hari. Tidak ada salahnya melakukan hal yang benar walau kita seakan melawan arus dunia.
Itulah justru yang harus kita lakukan kalau kita memang sungguh-sungguh mau mengikuti Tuhan Yesus. Amin.

Love,
Natasha yang sedang sibuk ujian

PS : Sedih banget sekolah tinggal menghitung bulan dan hari... :')
PPS : Kenapa ujian pelajaran mayor (baca : Sejarah, Geografi, dan mungkin Ekonomi besok senin susah banget? :')))
PPPS : #NOHATE #COMMENTIFYOUDISAGREEWITHME

03 January 2015

New Year's Resolutions (+Hopes) 2015

Yeah Happy New Year 2015 guys! Gue tidal bisa menulis di hari pertama dari Januari dikarenakan gue sibuk dari sejak New Year's Eve sampai kemarin. Gue menghabiskan waktu bersama keluarga gue yang ada di Jakarta.
Well, seperti setiap tahunnya kita bikin list tentang apa yang akan kita capai di tahun ini, gue akan membuatnya lagi. Dan kali ini semoga tidak hanya sekedar ucapan tapi juga bisa dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.
By the way, gue lupa-lupa inget sih pernah gak gue bikin NYR di tahun 2014? Tapi di tahun lalu, gue lumayan lah bisa nyelesain buku pertama gue yang gak kelar-kelar sejak 2011. Tahun 2014 juga gue melewati cukup banyak momen suka-duka yang banyak. Mulai kehilangan guru kesayangan, sekolah kebakaran-lah, mengalami masa-masa krisis identitas, dan sedih karena hidup gue terasa hambar. Namun, di sisi lain juga gue lewati sweet seventeen yang memalukan tetapi gue seneng impian jadi princess semalam terwujud, bisa pergi jalan-jalan ke belahan dunia lain, simply bisa melewati satu tahun penuh lagi itu udah suatu anugerah buat gue.

Dan tahun ini, gue tentu juga membuat janji-janji buat menjalani setahun ke depan. Gue bener-bener antara takut, semangat, dan cemas menghadapi tahun berat. Gue bakal lulus sekolah, setelah dua belas tahun nyaman dengan sekolah, gue harus menapaki kaki di perguruan tinggi yang lagi-lagi takut tapi gak sabar juga pengen dijalani. Tahun ini gue akan menjadi mahasiswa :'))

Oh yeah. Here's my promises :


  1. Membaca alkitab setidaknya selesai membaca 10 kitab.
  2. Menabung lebih rajin lagi untuk masa depan
  3. Lulus semua ujian dengan nilai yang gemilang
  4. Bertahan di kehidupan perguruan tinggi :')
  5. Ketemu sama temen-temen baik di kuliah nanti
  6. Ketemu gebetan baru? Haha...
  7. Menyelesaikan buku kedua
  8. Merevisi akhir buku pertama dan mungkin tahun ini akan dikirim ke penerbit :')
  9. Bisa pergi ke London 
  10. Tidak pingsan saat nanti ketemu Liam! WOOWW
  11. Belajar menjadi orang yang tidak lebay terhadap penyakit 
  12. Menurunkan sedikit berat badan 
  13. Membaca buku lebih banyak dan mengurangi streaming film
  14. Tidak takut pas ngeliat anak menderita autisme atau orang-orang gangguan mental since I wanted to be clinical psychologist
  15. Belajar lebih terbuka dengan orang lain, lebih fleksibel, dan lebih ramah deh pokoknya...

Yeah jadi ada lima belas keinginan gue di tahun 2015. Hehehe. Semoga gue bener-bener bisa menjalani dan melaksanakan dan impian gue bisa terwujud. Doakan gue bisa lebih bekerja keras untuk menggapai semua ini!!!

Love,
Natasha
PS : Semoga tidak sepik
PPS : Thanks guys who have participated on my polls on this blog!

12 people say my blog is awesome! Thanksxxx
11 said Niall's the best! Hhhmm disagree hahaha. Liam's better
13 people wants to live in London! ME TOO!!! :'(

Anyway, thanks for voting! Don't forget to vote the new polls!

HAPPY FIRST POST IN 2015!!! <3 p="">

29 December 2014

Pengorbanan

Hidup ini memang membingungkan, tak terprediksi, dan kadang tidak sejalan dengan yang kita inginkan.

Again, gue mau ngebahas tentang kuliah alias masa depan anak SMA yang mau lulus bentar lagi.
Gue tahu sudah cukup terlambat kalau gue mau kuliah di tempat yang aneh-aneh.

Waktu gue SD dan SMP, gue ini didorong untuk sekolah di sekolah internasional. Dulu, gue ini belum jago bahasa Inggris (sekarang juga gak jago juga sih... hanya sok jago) sehingga tentu saja kalau gue mau sekolah internasional, gue bakal terintimidasi dengan bahasa yang digunakan selama sekolah. Alhasil, gue yah menentang dong. Gue mau jadi apa kalau sekolah di sekolah dengan pengantar bahasa Inggris sementara gue di rumah ngomongnya bahasa Jawa.

Setelah menginjak SMA, dan mungkin karena kebanyakkan melakukan riset novel dengan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Inggris gue jadi lebih baik. Pertama, guru gue meluruskan grammar gue yang selama ini kacau balau, seenak jidat mau gue yang penting bisa ngomong dan enak didenger. 
Kedua, gue ini pemalu dan bahkan jarang ngomong dengan bahasa yang gue fasih sendiri. Gimana dengan bahasa asing yang jarang gue ucapkan? Sekarang, untungnya lebih mendingan dikit. 
Ketiga, gak gampang ngomong Inggris secara spontan, dan gue udah lumayan bisa spontan walau agak blepotan.

Nah, lucu kan bagaimana pandangan gue dulu yang maunya kuliah di Indonesia aja deh, dalam hitungan tahun gue berubah pikiran? 

Yeah, impian gue adalah kuliah di luar negeri. Alasannya adalah selain memang pendidikan di luar negeri (negara maju) itu lebih bagus daripada Indonesia, gue juga ingin menambah pengalaman. Gue pengen ngerasain hidup mandiri mengingat gue ini cenderung manja. Gue juga  pengen apa yah mengubah hidup gue yang datar ini menjadi lebih menantang sedikit. 

Tujuannya kemana? Yah awalnya muluk-muluk sih mau di London, University College London atau di Oxbridge (Oxford atau Cambridge) yang kalau ditinjau kembali dengan realita kehidupan, itu tidak mungkin terjadi. Biaya hidupnya mahalnya kalau diibaratkan beli mobil, udah dapet kali yah mobil sport... hhmm. Disamping itu, gue harus realistis juga kalau gue tidak les bahasa Inggris, gue semata-mata belajar di sekolah dan self-learning di rumah dari nonton film no subtitle, baca buku Inggris... mampukah gue mengejar IELTS 7,5? Kan sayang banget kalau harus belajar bahasa lagi sehingga memperlambat kelulusan....

Selanjutnya, impian gue sekarang jauh lebih realistis. Gue sendiri bahkan sudah survey tempatnya yang keren bangettt. Yakni National University of Singaproe (NUS), ini yah UI-nya orang Singapore. Dan NUS sendiri di mata dunia itu termasuk salah satu top university around the world. Kebayang kan gimana pasti kerennya kuliah di sana?
IELTS nya lebih manusiawi 6,5. Dari segi biaya, masih masuk akal untuk ukuran kuliah di luar negeri. Biaya hidup? Yah harus dihemat-hematin. Total kuliahnya kalo diitung-itung sama dengan kuliah swasta elite di Indonesia. 
Kurang menggiurkan apalagi? Okelah kalau UK agak kejauhan dari Indonesia, tapi ini Singapore... negara kedua orang Indonesia :')

Beberapa bulan belakangan, pikiran dan hati gue ini seperti bertengkar. Apa sebetulnya tujuan hidup gue? Kenapa gue udah punya cukup keinginan untuk mencari pengalaman baru, keluar dari zona nyaman gue, tetapi gue tidak punya apa yah... niat dan semangat untuk berjuang mencapai keinginan gue kuliah di luar negeri.

Mari kita bandingkan kehidupan gue bila kuliah di luar negeri vs di Indonesia. 

Di luar negeri: 
  • Kelebihan :
  1. Mendapat pengalaman baru
  2. Lebih fasih berbahasa Inggris
  3. Bisa punya banyak teman baru dari berbagai belahan dunia
  4. Pola pikir gue jelas akan lebih terbuka 
  5. Belajar kebudayaan baru
  6. Bisa jadi lebih sering exercise karena di luar kan lebih sering jalan kaki 
  • Kekurangan :
  1. Seret jodoh *nah loh*
  2. Takut homesick *karena gue cinta rumah banget*
  3. Takut kalau sakit gak ada yang urus dan gak tau harus ngapain...
  4. Gak bisa masak :') 
  5. Takut terjerumus ke hal negatif
Di Indonesia :
  • Kelebihan :
  1. Tidak perlu khawatir kendala bahasa
  2. Masih bisa ngumpul ama keluarga dan temen-temen
  3. Ngerasain hidup normal
  4. Buku-buku gue ada di sini semua jadi bisa jadi referensi belajar
  5. Gak puyeng sama urusan rumah tangga 
  • Kekurangan :
  1. Hidup ini monoton
  2. Pengalaman baru cuma sedikit
  3. Harus bikin skripsi...
  4. Begini terus jarang olahraga
  5. Tidak ada yang bisa dibanggakan...
Well, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Itu gak bisa dipungkiri lagi. Gue agak kecewa karena gue pada akhirnya akan masuk di perguruan tinggi swasta di Jakarta Selatan. Mungkin bisa nebak sendiri lah apa. Kalo mau dibandingin fasilitas yah pasti kebanting sama luar negeri. Sebenernya bukan karena gedungnya jelek atau kampusnya secara fisik yang gue lihat.
Tapi, siapa sih yang gak pengen punya kampus keren? Yang nyaman dan enak dibuat nongkrong...

Sekitar dua atau tiga hari lalu gue mendapat pencerahan. Pencerahan yang bener-bener bikin gue somehow, gak sabar pengen cepet kuliah. Gue takut sekali harus mengakhiri masa sekolah gue. 12 tahun gue pakai seragam dan hidup nyaman di kelas, tiba-tiba gue harus keluar dan masuk ke jenjang yang katanya menuntut kemandirian. In the end, you have to count on yourself.

Gue minta sama Tuhan buat kasih gue pencerahan, dan doa gue dijawab. Gue mikir lagi untung-ruginya kalau gue coba-coba di luar negeri atau gue cari aman dan masuk ke kampus yang udah nerima gue ini.

Jawabannya sederhana tetapi sulit diterima. Pengorbanan.

Do you get it?

"Sometimes in life, you have to sacrifice something in order to get the other thing."
Dengan memakai prinsip demikian, gue bisa menemukan jalan keluar dari dilema yang gue hadapi.
Gue sadar bahwa gue gak bisa rakus, gabisa tamak pengen mendapatkan semuanya sekaligus. Gue harus mengorbankan hal yang gue mau. Kayak gue punya banyak cita-cita, tapi gue gak bisa kan jadi dokter, suster, agen rahasia, psikolog, dan penulis dalam waktu bersamaan?
Gue harus memilih mana yang benar-benar gue minati, mana yang merupakan panggilan hidup gue, dan mana yang paling sesuasi dengan kondisi gue di masa sekarang.
Sekarang gue anak IPS, gak suka fisika, bodoh di kimia, ngafalin yang abstrak kayak biologi juga susah, takut sama mayat, gak tahan ngeliat orang sakit kulit, yah gimana mau jadi dokter atau suster?

Gue akhirnya mencapai di keputusan bahwa. Gue menyerah untuk menggapai impian kuliah di luar negeri. Setelah sedih banget rasanya kan gak bisa dapet kehidupan baru, mungkin pengetahuan baru, pokoknya hilang sudah bayangan gue bisa mandiri, berani ngomong Inggris, dan menjadi dewasa.
Semua bayangan itu sirna, tetapi digantikan juga dengan bayangan lainnya.

Gue pikir lagi kuliah di luar negeri (dengan tujuan gue di Singapore) kalau mau biaya kuliahnya murah, gue harus kontrak buat kerja di sana dua tahun. Singapore terkenal dengan negara yang katanya orang addict kerja banget. Workaholic. Dan tentu ada rasa takut kan gue gak betah, tapi gak bisa pulang juga. Pikir-pikir cewek mau sekolah tinggi ujung-ujungnya apa? Well, kalau beruntung dapet cowok yang mapan.
Gue terus bandingin pelajaran (mata kuliah) di calon kampus gue vs NUS. Gue pikir lagi, sekarang ngerti juga kenapa psikologi di luar negeri harus sampe PhD dulu baru bisa dikatakan psikolog beneran. S1 mereka yah cenderung 'dangkal' ditambah kebanyakkan gak ada skripsi.
Gue lihat pelajaran di kampus gue itu lumayan berat yah kalau diliat. Plus ditambah gue dapet dorongan sana-sini, bahkan dari kenalan orang tur bahwa kampus gue ini bagus psikologi-nya. Alhasil, gue semakin galau tetapi yakin bahwa mungkin lebih baik gue tinggal di Jakarta aja.

Psikologi sama halnya seperti dokter, sosiologi, maupun hukum itu ilmu-ilmu yang lebih baik diambil di negara sendiri. Mengapa? Karena masalah-masalah di Indonesia itu berbeda dengan luar negeri. Apalagi negara maju. Penyakit pun juga berbeda. Di luar negeri yang bersih apa bisa orang kena tipes?
Walau psikologi sebenernya emang masih lebih umum, tetapi gue mikir kalau gue kuliah di luar dengan pandangan orang asing, lalu gue kerja di sini... apa ilmu gue itu bisa kepake di Indonesia?
Ditambah kuliah di Indonesia tentunya sudah disesuaikan dengan lingkungan kerja yang ada di Indonesia, kan? Di sini, gue juga bisa magang dan ngerasain kerja di bidang yang gue minati. Sesuatu yang mungkin tidak gue dapatkan bila gue memutuskan kuliah di luar negeri.
Gue lagi mikir aja, ada orang kuliah jauh-jauh di Amerika (dia cewek), dan karena sedihnya dengan ijazah SMA, kita sebetulnya gak bisa langsung kuliah baik di Eropa maupun Amerika. Gue kurang mengerti deh, yang pasti harus ambil lagi tambahan mungkin biar setara dengan kualifikasi mereka.
Tidakkah sebetulnya buang-buang waktu, tenaga, dan biaya?

Yeah pada akhirnya, gue mengambil keputusan bahwa lebih baik di sini. Gue gak perlu pusing mikirin soal makan, rumah, kesepian, dan lain-lain. Fokus gue hanya menimba ilmu. Gue akan bekerja keras untuk menjadi penulis sungguhan bukan sekedar hobi aja.
Meskipun gue harus mengorbankan angan-angan bisa punya kehidupan baru, meski gue menahan rasa iri melihat temen-temen gue yang kuliah di luar, apalagi di Inggris... mereka bisa jalan-jalan keliling Eropa pas liburan... sementara gue harus ketemu lagi sama Jakarta...

Tidak apa.
Gue memutuskan untuk mengorbankan kenangan baru itu demi sebuah pendidikan dan kehidupan yang lebih masuk akal dijalankan.

Love,
Natasha

PS : Merry Christmas and Happy New Year!!! Lots of love!
PPS : Libur tinggal beberapa hari lagi... hhmm...


03 December 2014

Best Friend Forever

Sebenernya apa sih definisi "BFF" alias Best Friend Forever itu?
Apakah sahabat itu orang yang paling lama kita kenal di hidup kita? Apakah sahabat itu yang selalu main sama kita di sekolah dan jalan-jalan bareng? Apakah sahabat itu orang yang sering chat sama kita? Ataukah sahabat itu orang yang selalu ada buat lo, tidak hentinya mendengar keluh-kesah lo, dan lo ngerasa kehilangan banget kalo gak ada dia?

Punya pengalaman pahit di masa lalu menyangkut sahabat membuat gue jadi lebih terbuka lagi dengan definisi sahabat itu sendiri. Sebenernya gue ini punya sahabat gak sih? Apakah gue punya temen yang selalu siap mendengarkan masalah gue ketika sedih, bisa diajak ketawa bareng juga, dan gak meninggalkan gue ketika gue sedang butuh pertolongan. Sebenernya ada gak sih temen kayak gini?

Bagi gue temen itu sangat penting. Gue ngerasain banget waktu itu ujian tes masuk univ, gue sendirian bener-bener sendirian. Temen-temen dari sekolah gue yang tes juga cowok semua (yang gue ketemu) dan ada yang tidak dekat. Jadi, gue bener-bener ngerasain sedihnya cuma bisa jalan bolak-balik sendirian, tanpa arah, dan tidak ada orang untuk menenangkan gue yang gugup banget. Gue paling gak suka berada di suatu lingkungan baru yang bener-bener asing di mata gue. (But Thank God I managed it and yey! I'm accepted!! so I'm officially a university student, hhhmm)
Temen itu membuat hidup kita lebih baik. Lebih berwarna. Lebih seru buat dijalanin. Kita bisa ngomongin apa aja sama temen-temen kita. Dari belajar bareng di conference, sesi curhat-curhatan, ngasih tips, share ayat alkitab, main games gak jelas, sampe ngobrolin berbagai macam topik pun semuanya terasa seru. Tiap hari terus berinteraksi gak membuat kita bosen. Justru merasa kehilangan ketika mereka gak ada.

Jeleknya usia-usia remaja, mulai dari SMP sampai SMA seperti ini, orang-orang cenderung untuk membuat kelompok masing-masing. Mereka cenderung bergaul dengan orang yang sederajat dengan mereka. Bukan masalah status sosial, tetapi lebih ke arah kesatuan pikiran dan punya sifat yang cenderung mirip-mirip. Ada juga yang berteman dekat karena punya hobi yang sama, ngefans artis yang sama, dan masih banyak lagi deh.

Awal permulaan bisa terbentuk sebuah geng itu sendiri biasanya gabungan dari dua-tiga orang temen deket yang gak sengaja ngobrol bareng dan ngerasa nyambung dan cocok dengan satu sama lain. Setelah sering banget menghabiskan waktu bersama, barulah ada rasa kebersamaan yang muncul dan memutuskan untuk berkelompok dengan teman-teman yang ini. Kalau dulu nge-tren banget bikin geng, sekarang zaman SMA gue sih gak secara resmi punya nama, visi-misi, dan tujuan (udah kek lembaga sosial aja :| *ceritanya abis UAS sosiologi*) tetapi secara sadar diri kita tahu bahwa lingkaran pertemanan kita itu adalah mereka-mereka itu.

Gue tipe orang yang sulit menerima orang baru ketika gue udah punya lingkaran pertemanan itu. Gue orangnya (ini jelek, jangan ditiru yah!) suka men-judge orang duluan tanpa kenal lebih lanjut. Bukan dari segi tampang, karena gue suka sotoy, gue suka menebak-nebak kepribadian dia kayak apa, dan ketika gue sadar dia ini beda sama gue, otomatis gue membatasi diri untuk mengenal dia lebih jauh. Gue tahu gue tidak bakal nyambung dengan jenis-jenis orang tertentu. Apalagi yang punya minat yang berbeda dengan gue.

Gue cenderung ke tipe yang mempertahankan erat persahabatan. Gue bakal berusaha untuk menjaga kerukunan, keharmonisan, dan keutuhan lingkaran pertemanan gue. Gue paling benci dari dulu kalau liat temen gue berantem sama yang lain. Apalagi dari lingkaran pertemanan yang sama. Pasti dijamin, bakal terbelah dua kubu bahkan lebih. Karena gue tahu rasanya kehilangan teman, gue jadi gak mau mengulangi hal yang sama. Gue mencoba untuk menjaga hubungan gue sama temen-temen gue sekarang. Lagipula, kita udah dewasa. Seharusnya udah tahu lah gimana caranya untuk mempertahankan pertemanan sampai kita gede nanti.

Bagaimanakah caranya untuk menjaga hubungan pertemanan kita? Caranya gampang. Komunikasi itu adalah yang wajib dilakukan setiap hari karena dengan begitu kita makin mengenal mereka lebih baik, dan otomatis kita lebih enjoy sama mereka. Gak perlu takut lagi salah bicara karena kita udah tahu latar belakang mereka kayak apa, sifat mereka kayak apa, kelakuannya kayak apa.
Yang penting lagi adalah mau saling menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing temen kita. Toh kita sendiri juga banyak kejelekkannya, kalau temen kita mau terima kita apa adanya, kenapa kita juga gak bisa nerima mereka yang original? Ini yang sering menjadi awal konflik pertemanan.
Tak kalah penting lagi adalah dari masing-masing kita punya rasa kebersamaan dan persahabatan yang erat. Kalau udah ada mindset seperti ini, dijamin kita bakal berusaha untuk menjaga pertemenan kita biar gak renggang.

Yang mau gue bahas lebih lanjut adalah bagaimana perbedaan kepribadian itu membuat pertemanan seringkali hancur. Sedih ketika ada temen yang orangnya itu suka bertemen, tetapi dia lebih suka konsep "berinteraksi dengan orang lain" dibanding "berusaha menjaga keharmonisan pertemenan". Ini yang membedakan Sanguinis dan Plegmatis dalam hal pertemanan. Sanguinis lebih suka "interaksi" nya, tetapi Plegmatis itu lebih ke "maintain" friendship. Ketika ada salah satu dari temen kita yang cara berpikirnya udah menyimpang sama sisa dari kelompok kita, alhasil akan terjadi konflik. Ada dua cara. Pertama, bikin temen kita itu sadar  bahwa kita memang yang selalu ada buat dia. Kalau cara ini gak berhasil, it means dia memang bukan teman sejati kita. Simple aja sih.
Temen sejati tidak bakal meninggalkan temennya sendiri, mau temennya bertolak belakang sekalipun dengan dia.

Gue prefer punya beberapa temen deket saja daripada punya banyak teman tetapi gak ada satupun yang peduli sama kita ketika lagi susah. Orang boleh judge gue sebagai orang yang eksklusif cuma mau bergaul sama temen-temennya sendiri aja, atau tertutup sama orang baru... yah memang beginilah gue. Bahkan dalam kenyataan pun, gue memang punya banyak temen deket, walau kenalan gue itu gak banyak.
Memang gue akuin, ketika ada masa gue gak bisa sama temen deket gue, dan gue sendirian, gue tidak punya temen lain karena gue memang jarang berinteraksi sama temen lain. Yeah, ini emang buruk gue akuin.

Beberapa temen gue sering bertanya ke gue, gimana sih cara menemukan sahabat? Sahabat itu bisa tiba-tiba datang. Dia bisa jadi orang yang selama ini tidak kita kenal, tetapi tiba-tiba satu kelas dan BOM jadi sahabat. Bisa jadi kita dikenalin temen, dan nyambung, jadi deh temen deket. Sama seperti cinta yang datang begitu saja, sahabat pun juga begitu.
Cara tahu mana sahabat yang baik dan tidak itu cukup mudah. Apakah dia bisa menerima kekurangan lo? Apakah dia mau nemenin lo karena ada maksud tertentu? Apa dia mau mendengar keluh kesah lo?

Banyak orang yang masuk ke sebuah lingkar pertemanan karena geng itu dianggap paling prestige, atau istilahnya paling gaul dibanding geng-geng lain seangkatan. Sekarang gini aja deh, kalau kalian ngerasa gak nyaman, ngerasa gak cocok bertemen sama mereka, dan teman-teman kalian itu mengubah diri kalian jadi lebih negatif, itulah yang harus dihindarin. Temen yang baik itu yang mau nasehatin kita kalau kita salah, dia yang bela kita ketika orang lain mempersalahkan kita, temen yang baik gak akan menjauhi kita hanya karena kita punya suatu kekurangan.


Gue jujur sedih karena kehilangan temen gue lagi. Memang kita gak musuhan (karena menurut gue musuhan itu enggak banget), tetapi gue tahu kalau kita juga gak sedeket dulu lagi. Sahabat bisa tiba-tiba hilang ketika ia menemukan pengganti kita. Ketika dia lebih asyik sama temen barunya, or maybe kalau seusia kita, yah sama pacarnya. Sedih ketika bukan kita lagi orang pertama yang dia chat karena dia mau cerita sesuatu atau mau curcol. Dan sedih ketika dia perlahan berubah, menjadi seseorang yang bukan kita kenal dulu, yang topik pembicaraannya udah berubah, dan sifatnya bahkan berubah.
Rasanya kehilangan banget deh.

Gue mencoba berpikir dari perspektif temen gue. Okay lah dia punya temen baru yang mungkin lebih asyik daripada gue, gue jauhin dia, dan gue tau gak enak rasanya dijauhin temen. Namun, harusnya dia juga inget kalau dalam pertemanan itu gak selalu tentang dia, kan? Adakalanya dia juga harus ngertiin gue. Jujur, gue yang orangnya toleran dan sabar ini juga jengah dengan temen gue ini. Kalau kata salah satu temen gue, ngomong sama dia seakan ngomong sama cermin. Gak dianggep. Gue lelah karena semakin hari, kita masih komunikasi semata-mata karena kita udah saling kenal lama. Gak ada lagi yang namanya suka-duka bareng.

Intisari dari yang gue tulis panjang-lebar ini sebenernya cuma mau ingetin, jangan lupa dan meninggalkan temen kita demi temen lain yang baru dikenal. Ini bukan menyangkut berapa tahun lamanya kita berteman, tetapi kalau udah tau dia itu baik, yang pengertian, dan pendengar yang baik, kenapa harus beralih ke orang yang belum tentu mau dengerin curhatan lo yang kadang annoying? Seringkali, orang langsung banting setir pindah haluan pertemanan karena kesenangan semata. Karena melihat mereka lebih asyik daripada temen kita yang lama, karena mereka lebih fleksibel, lebih seru diajak bersenang-senang... mungkin karena gue ini introvert yang lebih suka ketenangan kali yah...

Sekali lagi, tak ada salahnya mencari teman baru. Semakin banyak teman, banyak relasi, hidup kita semakin mudah dan bahagia. Kita pada akhirnya akan saling membutuhkan satu sama lain, mungkin di masa depan yang akan datang. Kalau temen baru kita itu membawa dampak yang lebih baik, yang lebih mau menerima kita apa adanya, tidak masalah. Namun, itulah ada pertemuan ada juga perpisahan. So, jangan sedih ketika harus melepas salah satu teman kita. Maybe, dia lebih bahagia sama teman barunya. But, jangan juga kita musuhin yah teman kita yang itu :) mereka mungkin bukan sahabat kita lagi, tetapi dia tetep temen yang pernah sempat mengisi hidup kita sesaat.


Semoga pertemanan kita semua tetap awet :)

Love
Natasha

PS : Today is the last day of Odd Term!!!! GOODBYE SCHOOLLL! #NoMoreFinalExams
PPS : So far, UAS tersusah adalah sosiologi. Mungkin karena kemarin udah kebawa suasana mau libur panjang jadi agak gak konsen belajarnya.
PPPS : SEDIHHH sekolah tinggal menghitung satu jari tangan doang. Then have to leave my beloved friends! I'm gonna miss you! Let's still be friends even if we're separated.


Udah lama yah by the way gak nge-post lagi.