Hey there!

I'm Natasha, the author of this blog. I'm also a psychology student who is working hard to be a novelist. I like thinking deeply mainly about life. I'm not a wise person, I'm simply just a girl who wants inspire the world through my writing.

Hope you enjoy every single of my posts.

Lots of love!
Natasha

PS : Feel free to comment on my posts, I will definitely reply to your comment!


BLOG READERS SURVEY
Please kindly do this survey, it will only take a little of your time! :)

28 July 2014

Parenting Tips

Don't get me wrong... I'm not a parent... yet. But, I'm a daughter and I've been watching and analyzing the way parents rising their children this lately. Sadly, a lot of parents teach their children in the wrong way. So, as a daughter, I have few tips on How To Be A Good Parent!!!

Gue pernah baca di buku psikologi kalau anak kecil itu pikirannya, perbuatannya, perkataannya itu paling besar dipengaruhi oleh keluarga. Terutama mungkin juga orangtua. Dan walau gue masih bocah begini, gue tahu jadi orangtua itu gak gampang.

Pertama, jelas harus kerja banting tulang buat memenuhi setiap kebutuhan anak. Mulai dari kebutuhan primer, sekolah, dan apalagi zaman sekarang anak-anak harus punya gadget-gadget keren supaya bisa bergaul dengan baik di sekolah.

Kedua, anak kecil itu gampang banget niru apapun yang dilakukan orangtuanya. Mama gue suka banget begadang, dan begitu juga dengan gue. Mama gue pickyyy banget makan, yah gue juga begini deh suka milih-milih makanan.
Dan kalau orangtuanya gak bisa jadi contoh yang baik, anaknya pun akan sama aja seperti orangtuanya. Tentu aja orangtua gak mau masa depan anaknya jelek atau minimal melakukan kesalahan yang sama seperti yang telah dialami kedua orangtuanya.

Ketiga, tentu aja sulit juga buat bikin jalan seorang anak itu gak menyimpang. Salah cara didik, anak itu bakal jadi orang yang salah juga. Ditambah karakter setiap anak berbeda-beda dan metode mendidik anak tentu aja beda tergantung dari karakter si anak itu.

Keempat, zaman sekarang karena tingkat kebutuhan meningkat, maka otomatis produktivitas harus juga ditingkatkan supaya bisa memenuhi kebutuhan. Kalau dulu tugas ayah-lah yang mencari nafkah, zaman sekarang kedua orangtua dituntut kerja kalau keluarganya mau hidup diatas rata-rata. Alhasil, tugas mendidik anak jatuh tangan ke babysitter atau pembantu. Dan tentu aja susah bagi orangtua ngatur waktu supaya mereka tetep bisa turun tangan mendidik anak mereka. Kalau mereka masih peduli nasib anaknya.

Kelima, orangtua juga manusia. Manusia melakukan kesalahan. Gak ada manusia yang sempurna.


Berikut, gue punya sebuah masalah dan penyelesaian dari sudut pandang orangtua yang berbeda-beda. Coba deh perhatikan tipe-tipe orangtua berikut ini.

Masalah : Seorang balita (or let's say anak)  menangis sampe nyakar-nyakar lantai karena dia batuk dan si orangtua gak bolehin beli permen.

RESPON

Tipe Ortu 1 : "Kalo gak berhenti nangis gak mama beliin permen nanti!"
Tipe Ortu 2 : "Biarin sana nangis aja terus, mama gak peduli!"
Tipe Ortu 3 : "Ayo yaudah iya mama beliin Permen"
Tipe Ortu 4 : *didiemin aja*
Tipe Ortu 5 : *Jangan nangis dong, Natasha. Kamu kan lagi sakit gak boleh makan permen! Nanti tambah sakit loh. Kalo sakit nanti harus minum obat terus sampe sembuh. Gak mau kan minum obat terus? Nah makannya Tasha sembuh dulu yah baru nanti makan permen!

Well, gue percaya masih ada versi ortu lainnya. Tetapi, kelima ini yang gue anggap paling lazim dijumpai di mall, jalanan, even Gereja alias tempat beribadah! Harusnya konsentrasi untuk ibadah... ini harus keganggu sama tangisan bayi atau rengekkan anak kecil :( *MaafkanHambaTuhan*

Menurut kalian mana yang paling bener?

Menurut gue adalah jelas Tipe Ortu Kelima. Kenapa? Karena anak itu kalau kata nyokap gue ibarat kertas putih yang kita( orangtua) coret-coret. Jelas anak kecil itu cuma manusia polos yang gak tau apa-apa. Dan terserah orangtua mau menjadikan apa anak itu kelak. Mau cuma dicoret-dicoret gak jelas? gak beraturan? Yah si anak juga bakal jadi gak beraturan seumur hidupnya. Atau mungkin mau digambar dengan pemandangan yang indah? Yah anak harus dididik dengan bagus juga.
Orangtua itu harusnya mampu menasehati dan memberi arahan kepada si anak. 
Beda dengan dimanja. Orangtua itu harus tahu kapan saat anak itu diberi masukkan, nasehat, atau istilahnya dibaek-baekkin dan kapan anak itu harus ditegur.
Memang agak bosenin, tetapi ini yang paling benar. Setidaknya paling benar dibanding yang lain.
Anak itu harusnya dikasih alasan mengapa dia gak boleh begini... kenapa dia gak boleh begitu..... bukan langsung marahin, ngancem, didiemin aja, atau malah diturutin aja biar anaknya diem.
Well, berubahlah para orangtua *widih*


Berikut alasan mengapa gue kurang setuju dengan tipe orangtua yang lain.

Tipe ortu 1 mendidik dengan cara "mengancam". Sering banget kan kita lihat ada orangtua yang ngancem atau nakut-nakutin dengan menceritakan mitos-mitos masa lalu. "Ayo makan dulu abisin, kalo gak abis, nanti mama panggil pak polisi terus nanti kamu ditangkep loh".
Menurut gue cara mendidik ini salah karena si anak akan tumbuh menjadi orang yang penakut. Istilahnya harus ditakutin, diancam dulu baru si anak mau melakukan sesuatu. Ini tentu aja gak baik. Bayangin nanti si anak udah sekolah... dia gak mau belajar, terus harus diancem "Ntar mama gak beliin HP baru lagi" baru belajar. Berarti kesannya anak itu kayak kebo yang harus dipicut dulu baru mau jalan.
Ditambah si anak akan tumbuh dalam perasaan ketidakpastian dan cemas. 
Selain itu kalo biasain nyuruh anak dengan iming-iming sesuatu, anak itu juga bakal kebiasa kerja dengan imbalan. Mau belajar supaya dibeliin iPad kalau nilainya bagus. Alhasil, sampe gede si anak mau melakukan sesuatu karena ada motif tersembunyi. Si anak secara mental "manja". Gak punya inisiatif sendiri melakukan sesuatu karena dasarnya yah keinginan dia sendiri. 
Kadang kan jadi manusia kita kan harus tanpa pamrih menolong orang! 
Hati-hati yah! Jangan sampe jadi orang yang penuh perhitungan. 

Tipe ortu 2 mendidik dengan cara "keras". Banyaaak orangtua percaya kalau cara yang paling efektif dalam mendidik anak adalah dengan cara ini. Anak didik dengan "keras" atau kerennya disiplin. Gak salah dengan menjadi disiplin dan tegas. Tetapi yang jadi masalah adalah anak bisa tumbuh menjadi anak yang kasar karena dia ikutin orangtuanya yang juga kasar sama dia. Kemungkinan lain, mereka akan jadi "keras" juga hatinya. Maksudnya adalah dia orangnya jadi gak peduli, dingin, dan gak berbelas kasihan sama orang lain. Yang paling umum, si anak bakal menerapkan sistem mendidik yang sama terhadap anaknya kelak nanti karena ingin "bales dendam". Embel-embelnya begini : "DULU, Kakek itu suka mukul mama! Mama masih baik cuma marahin kamu!" Heheheh #pengalamanpribadi

Tipe ortu 3 mendidik dengan cara yang maunya-damai-aja-tanpa-peduli-ama-anaknya. Ini yang biasanya disebut orangtua yang manjain buah hatinya. Ada beberapa faktor yang bikin orangtua didik anak begini. Pertama, karena orangtuanya terlaluuuu baik dan sayang sama anaknya (apalagi anak tunggal) lantas dia bakal nurutin apa aja yang anaknya mau supaya anaknya bahagia. Nah yang kedua ini yang bahaya. Supaya anaknya berhenti nangis, diem, dan tenang. Orangtua pun juga gak perlu pusing atau repot denger anaknya rewel.
Well, salah besar manjain anak karena ketika besar nanti anak tentu aja harus hidup mandiri. Gak selamanya mereka bisa bergantung dengan orang lain. Yang penting juga GAK SEMUA yang diinginkan bisa terwujud. Karena justru kita belajar sesuatu yang berarti dari kegagalan kita. Kita belajar "menghargai" sesuatu atau seseorang karena kita gak punya. Anak yang dimanja begini tentu aja bakal jadi anak yang tumbuh dengan kepribadian menyebalkan. Dia bakal egois, keras kepala, suka memanfaatkan orang, dan individualistis.
Jadi jangan selalu menuruti keinginan anak. Biarkan mereka rasakan bagaimana rasanya ditolak. Rasanya menjadi gagal. Hidup tidak selalu berjalan mulus.

Tipe ortu keempat ini uhm jarang sih karena gue yakin orangtua gak bakal setega ini juga. Tapi gue pernah loh nemu kayak gini. Yang bener-bener gak peduli ama anaknya mau ngapain. Palingan cuma "Jangan, Tasha! Itu bahaya". Jadi bagi dia jadi orangtua itu memang cuma sekedar memberitahu apa yang benar dan yang salah. Terlalu cuek.
Anak yang punya orangtua cuek begini tentu aja bakal jadi anak yang cuek juga dengan orang lain. Mereka juga bisa jadi bakal ngerasa kurang dihargai, minder, dan merasa dirinya gak pantas hidup. Sisi positifnya..... si anak hidup mandiri. Dia juga bakal cari cara sendiri supaya hidupnya bener. Syukur kalau anaknya mau idup benar. Kalau enggak? Yah say hello to MADESU.

***
Masalah selanjutnya adalah bagaimana orangtua terkadang cuma bisa ngomong aja tapi gak dilakukan.
Pastinya orangtua sering nasehatin kita buat gak A,B,C,D,E,...., sampe Z. Mereka menuntut anak supaya begini, begitu... tetapi mereka sendiri juga sama aja.
Contoh orangtua nyuruh kita supaya jangan ngomong kasar atau pake bahasa yang tidak sopan. Eh, tapi pas telepon sama orang semua kebun binatang keluar dari mulut si orangtua sendiri.
Logikanya, si anak itu mengikuti orangtuanya. Bagaimana si anak mau nurut supaya gak ngomong kasar, kalau orangtuanya sendiri begitu?

Disinilah masalah utamanya. Orangtua  itu gak sempurna. Orangtua bukan manusia super yang tutur katanya baik, sikapnya baik, perbuatannya baik. Enggak.
Nah, kalau begini kasusnya gantian para anak yang harus dewasa dalam berpikir. Kita ngalah ajalah. Gak perlu ngedumel "Mama aja ngomongnya kasar blabla". Itu kurang ajar. Dan gak semua orangtua sabar.

Jadi solusinya adalah sebagai orangtua yang baik, mereka harusnya yah memberi contoh. Kalau kata-katanya selaras sama perbuatannya, dijamin si anak bisa lihat sendiri dan belajar dengan sendirinya. 

***

Berikutnya yang gak kalah penting lagi adalah hubungan orangtua dan anak itu seringkali cuma sebatas  formalitas belaka. Karena hubungan darah. Yah cuma sebatas antara orang yang melahirkan ditambah yang kerja keras biayain anak bersama dengan seseorang yang dilahirkan tanpa bisa request ke Tuhan mau dilahirkan di keluarga siapa.
Yang menjadi persoalan lain juga adalah banyak orangtua yang maunya dihormati secara berlebihan. Jadinya, hubungan ortu-anak itu kayak majikan-pembantu. Ortu bilang A, si anak harus melakukan A. Yeah, orangtua jadi ditaktor.
Ada juga yang kebalik. Anaknya yang bossy, orangtuanya yang diinjek-injek. Ini juga gak bener juga yah. Itu anak rasanya pengen diulek-ulek sampe halus.

The point is, anak zaman sekarang itu lebih "friendly". Lebih kurang ajar. Jelas. Lebih "pintar", tetapi yeah kita jadi anak pemalas karena punya teknologi canggih untuk membantu kita.
Jadi orangtua itu harus mau gak mau mengikuti perkembangan zaman. Susah emang kalau karakter orangtuanya itu tipe kaku dan tegas. Tapi, setidaknya hubungan itu dibangun dengan cara yang bersahabat.

Berikut trik membangun hubungan yang baik dengan anak (remaja terutama :p) :


  • Ajak anak nongkrong di cafe, misalnya atau nonton bioskop!
  • Ajak anak jalan-jalan (gak harus ke luar negri atau kota, ajak aja jalan di daerah sekitar) 
  • Luangkan waktu untuk dengerin unek-unek anak. Jadilah pendengar yang baik bagi anak kalau dia lagi cerita (jangan cuma mau didenger doang! Ingat, gimana anak mau denger nasehat orangtua kalau ortunya juga gak mau dengerin dia ngomong???)
  • Puji kalau anak itu punya bakat dan dukunglah kalau mampu (contoh anaknya jago nyanyi, beliin alat rekaman)
  • Ajak aja bercanda, ngobrol-ngobrol, cerita! Anak juga harus di-samaratakan derajatnya. Jangan dianggap remeh, karena orangtua juga harus belajar dari anaknya.
  • Kalau dia baik-baik aja, apa salahnya kalau anak diberi penghargaan? CONTOH : Si anak ini rajin belajar dan let's say rangking di kelas. Dia kepingin HP. Orangtua punya cukup uang untuk beli. Kenapa gak dibeliin? (Selama HP si anak udah cukup lama dipakai atau dia belum punya HP) Jangan jadi orangtua pelit.
  • Jangan terlalu banyak membatasi anak begini-begitu karena anak bakalan jengah. Bakal kesel. Alhasil, dia malah jadi keras kepala dan masa bodo sama orangtuanya!
  • Gak ada salahnya nyoba belajar bahasa gaul ;)
Note : Orangtua juga gak boleh terlalu lembek. Jangan takut marahin anak (asal jangan pake kekerasan fisik atau makian kasar) kalau anak salah. Hal itu berguna supaya anak bisa refleksi diri dan syukur-syukur berubah. Jangan lupa ajarin anak sopan santun, tata krama, dan etika. Yah pokoknya norma-norma begitu deh. Ngasih taunya gak harus langsung ngomong "Natasha, kamu harus bilang terima kasih yah kalau abis dikasih sesuatu sama orang". Bisa juga cara kreatif, misalnya si orangtua abis beli makanan dan bilang "Terima kasih" ke penjualnya. Terus bilang deh ke anaknya, "Jangan lupa biasain bilang terima kasih, Natasha!"

Terlepas dari yang gue sarankan, gue tau setiap orangtua punya cara sendiri untuk mendidik anak mereka. Dan mungkin itu cara yang terbaik juga. Hanya aja, pikiran orangtua juga harus terbuka kalau bener-bener peduli sama anak. Orangtua gak boleh berhenti belajar gimana caranya mendidik anak :)

Well, gitu aja tips parenting dari Natasha. '
MAAF BANGET kalo gue salah nulis atau salah nasehat atau salah persepsi. Maaf juga para orangtua kalau gue sedikit memihak kepada anak, toh gue juga statusnya masih anak orang. Gue nulis ini sebagai perwakilan seorang anak aja kok. Mungkin ada yang salah dari yang gue tulis, itu karena gue belum merasakan jadi orangtua. Kalaupun ada orangtua yang nyadar kesalahan gue ini, silahkan komentar. Kalau ada cara pandang gue yang salah silahkan dikritik.
Pasti ada yang mikir, "Belum ngerasain sih jadi orangtua beneran..... gak bisa begini... begitu.... gak gampang harus begini... begitu.... gak bisa seenaknya aja begini.... begitu, dl"

Peace yow

Sudah larut malam. Diluar masih takbiran. Dan gue ngantuk, tapi khawatir gak bisa tidur.

Well, selamat idul fitri, minal aidin wal-faizin teman-teman muslim! Cie gak puasa lagi #eh #CUMABERCANDA #DONTTAKEITTSERIOUSLY


Love
Natasha, yang pengen menjadi mama yang baik kelak 

PS : Krisis pangan di rumah :') Gak ada mbak, gak ada yang masak :( I wish I were Gordon Ramsay's kid or Jamie Oliver....







No comments:

Post a Comment